Permintaan Rumah Tapak di Jakarta dan Sekitarnya Tetap Stabil

Permintaan Rumah Tapak di Greater Jakarta Stabil

KORELASI.CO — Permintaan rumah tapak di kawasan Jakarta dan sekitarnya atau Greater Jakarta masih relatif stabil pada semester I 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang masih memengaruhi pasar properti.

Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat total permintaan rumah tapak di kawasan Greater Jakarta mencapai sekitar 3.900 unit sepanjang paruh pertama 2026. Pada periode yang sama, peluncuran rumah baru tercatat sekitar 3.500 unit dengan tingkat penjualan kumulatif sekitar 90 persen.

Head of Growth and Head of Strategic Consulting JLL Indonesia, Vivin Harsanto, mengatakan rumah tapak menjadi salah satu sektor properti yang relatif mampu bertahan dalam berbagai kondisi siklus pasar.

“Kalau kita lihat, landed house masih populer dan merupakan salah satu sektor properti yang cukup resilient selama siklus properti naik dan turun,” kata Vivin dalam Jakarta Property Market Overview 2Q di Jakarta, Selasa.

Preferensi Konsumen Bergeser ke Rumah Empat Kamar

Selain tingkat permintaan yang masih stabil, JLL mencatat adanya perubahan preferensi konsumen terhadap jumlah kamar tidur.

Pada semester I 2025, rumah dengan tiga kamar tidur menjadi tipe yang paling banyak diminati dengan porsi sekitar 39 persen. Namun, pada semester I 2026, rumah dengan empat kamar tidur menjadi tipe yang paling populer.

Menurut Vivin, perubahan tersebut berkaitan dengan semakin lengkapnya fasilitas yang tersedia di kawasan hunian terpadu atau township.

“Sekarang kita melihat township sudah memiliki fasilitas yang cukup baik. Semua developer sudah mendorong fasilitas seperti komersial, fasilitas publik, rumah sakit, sekolah, dan sebagainya,” ujarnya.

Kelengkapan fasilitas tersebut dinilai membuat kawasan township semakin menarik bagi konsumen, termasuk kelompok usia muda. Selain fasilitas, konektivitas dan infrastruktur kawasan juga menjadi faktor yang mendukung kenyamanan konsumen.

Dengan kondisi tersebut, permintaan terhadap rumah dengan tiga hingga empat kamar tidur tetap kuat meskipun luas bangunan tidak selalu besar.

Rumah Rp600 Juta-Rp1,3 Miliar Masih Dominan

Dari sisi harga, riset JLL menunjukkan adanya pergeseran permintaan antarkelompok harga pada semester I 2026.

Rumah dengan harga Rp600 juta hingga Rp1,3 miliar menjadi segmen dengan porsi permintaan terbesar, yakni sekitar 32 persen. Segmen tersebut juga mencatat pertumbuhan dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Sementara itu, rumah dengan harga di bawah Rp600 juta menyumbang sekitar 19 persen permintaan. Segmen rumah dengan harga di atas Rp3 miliar juga mencatat peningkatan dan menyumbang sekitar 19 persen.

Adapun segmen harga Rp1,3 miliar hingga Rp2 miliar menyumbang sekitar 22 persen permintaan. Sementara segmen Rp2 miliar hingga Rp3 miliar berada di angka sekitar 9 persen.

Menurut riset JLL, kedua segmen terakhir tersebut mengalami pelemahan secara moderat.

Data tersebut menunjukkan bahwa permintaan rumah tapak di Greater Jakarta tetap tersebar di sejumlah kelompok harga, meskipun terdapat perubahan pada preferensi konsumen dan kekuatan permintaan di masing-masing segmen. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *