KORELASI.CO – Teknologi imersif terus mengubah cara manusia berinteraksi dengan lingkungan digital. Augmented reality (AR), virtual reality (VR), dan mixed reality (MR) kini tidak hanya mengandalkan visual, tetapi juga memanfaatkan sensasi sentuhan atau haptic serta suara atau sound untuk menciptakan pengalaman yang lebih alami.
Kombinasi berbagai indra memungkinkan pengguna memperoleh informasi melalui gambar, suara, dan respons fisik. Dalam pengembangan tertentu, peneliti juga memanfaatkan penciuman atau olfaktori untuk memperkaya pengalaman digital.
Pendekatan multisensori ini membuka peluang dalam pendidikan, simulasi medis, pelatihan industri, hiburan, hingga pengembangan teknologi aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Haptic Menghadirkan Sensasi Sentuhan di Dunia Virtual
Haptic merupakan teknologi yang menyampaikan informasi melalui sensasi fisik, seperti getaran, tekanan, atau gerakan. Dalam lingkungan virtual, teknologi ini membantu pengguna merasakan respons ketika mereka berinteraksi dengan objek digital.
Salah satu contoh penerapannya terdapat pada kontroler DualSense untuk PlayStation 5. Sony menggunakan sistem haptic feedback untuk menghasilkan getaran yang menyesuaikan aksi dalam permainan. Fitur adaptive triggers juga memberikan variasi tekanan ketika pemain melakukan tindakan tertentu.
Pengguna dapat merasakan perbedaan respons saat menarik busur atau mengoperasikan peralatan virtual. Informasi mengenai teknologi tersebut tersedia melalui situs resmi PlayStation.
Pengembang juga membuat sarung tangan haptic yang memberikan umpan balik saat pengguna menyentuh atau memanipulasi objek virtual. Perangkat seperti ini berpotensi membantu pelatihan keterampilan yang membutuhkan koordinasi tangan dan ketelitian gerakan.
Dalam aplikasi AR, getaran dapat berfungsi sebagai penanda atau peringatan. Misalnya, sistem dapat memberi tahu pengguna melalui respons sentuhan ketika mereka mendekati lokasi tertentu atau menyelesaikan sebuah tindakan.
Namun, sensasi haptic tidak selalu meniru sentuhan nyata secara sempurna. Kualitas pengalaman bergantung pada jenis perangkat, ketepatan respons, serta kemampuan sistem menerjemahkan interaksi digital menjadi umpan balik fisik.
Haptic Mendukung Pembelajaran Multisensori
Teknologi sentuhan juga memiliki potensi dalam pendidikan, terutama bagi penyandang tunanetra atau pengguna dengan gangguan penglihatan.
Penelitian Su Mon Chit, Kian Meng Yap, dan Azlina Ahmad yang terbit dalam jurnal Multimedia Tools and Applications pada 2024 mengembangkan kerangka pembelajaran virtual dengan media tiga dimensi, haptic, audio, dan olfaktori.
Penelitian tersebut melibatkan 26 peserta dengan gangguan penglihatan, terdiri atas 21 orang dewasa dan lima anak-anak. Para peneliti menguji kegunaan aplikasi pembelajaran yang membantu peserta mengenali bentuk buah dalam lingkungan virtual.
Hasil pengujian menunjukkan penilaian kegunaan aplikasi berada di atas rata-rata. Meski demikian, penelitian tersebut menggunakan satu perangkat haptic dan berfokus pada konteks Malaysia sehingga hasilnya belum dapat mewakili semua kelompok pengguna atau perangkat.
Pembaca dapat mempelajari metode dan hasil penelitian melalui publikasi ilmiah Chit dan rekan-rekan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perancangan pembelajaran multisensori perlu mempertimbangkan kebutuhan pengguna, kemudahan penggunaan, dan kesesuaian media. Haptic dapat membantu menyampaikan informasi bentuk, sedangkan audio memberikan petunjuk tambahan ketika pengguna menjelajahi objek digital.
Sound Memperkuat Persepsi Ruang Virtual
Selain sentuhan, suara berperan penting dalam membangun persepsi ruang pada sistem VR, AR, dan MR. Audio dapat memberi petunjuk mengenai lokasi sumber suara, arah gerakan, serta kejadian di sekitar pengguna.
Salah satu pendekatan yang mendukung pengalaman tersebut adalah spatial audio atau audio spasial. Teknik ini menyesuaikan karakter suara berdasarkan posisi sumber dan sudut pandang pengguna sehingga suara terasa berasal dari lokasi tertentu.
Sementara itu, auralization merupakan proses mereproduksi atau menyimulasikan pengalaman akustik suatu ruang melalui suara. Teknik ini dapat membantu pengembang menggambarkan bagaimana suara merambat, memantul, dan mengalami perubahan di lingkungan virtual.
Sebagai contoh, suara langkah kaki dalam simulasi dapat terdengar berbeda ketika pengguna bergerak dari ruangan kecil ke aula besar. Sistem audio dapat mengatur gema, pantulan, dan karakter suara untuk mendukung persepsi terhadap lingkungan tersebut.
Pengembang juga perlu memperhatikan latensi atau keterlambatan respons. Jika suara tidak mengikuti pergerakan objek secara tepat, pengguna dapat merasakan ketidaksesuaian antara tindakan dan respons audio. Ketidaksesuaian tersebut berpotensi mengurangi kenyamanan dan rasa kehadiran dalam ruang virtual.
Haptic dan Sound Saling Melengkapi
Haptic dan audio menyampaikan jenis informasi yang berbeda. Haptic memberikan umpan balik melalui sentuhan, sedangkan audio membantu pengguna mengenali suara, arah, dan perubahan situasi di lingkungan digital.
Ketika sistem menggabungkan keduanya secara tepat, pengguna memperoleh lebih banyak petunjuk untuk memahami interaksi. Dalam simulasi, misalnya, suara dapat menandai sebuah peristiwa, sementara getaran memberi konfirmasi bahwa pengguna telah melakukan tindakan tertentu.
Kombinasi ini juga berpotensi meningkatkan aksesibilitas. Penelitian Microsoft Research berjudul Towards Sound Accessibility in Virtual Reality membahas cara menggantikan informasi suara dengan petunjuk visual dan haptic bagi pengguna tunarungu atau yang memiliki gangguan pendengaran.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengembang perlu mempertimbangkan cara alternatif untuk menyampaikan informasi yang biasanya hanya tersedia melalui audio. Informasi lebih lanjut tersedia di Microsoft Research.
Pendekatan multisensori tidak berarti semua indra harus selalu digunakan bersamaan. Pengembang perlu memilih kombinasi yang sesuai dengan tujuan aplikasi dan kebutuhan setiap pengguna agar informasi tetap jelas serta tidak membebani perhatian.
Haptic dalam Pendidikan STEM dan Simulasi
Pembelajaran sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM dapat memanfaatkan teknologi haptic untuk mendukung kegiatan praktik virtual.
Dalam kajian yang diterbitkan di jurnal Robotics pada 2022, Filippo Sanfilippo dan rekan-rekannya membahas integrasi VR, AR, dan haptic untuk pembelajaran multisensori. Kajian tersebut meninjau potensi teknologi sentuhan dalam membantu peserta didik berinteraksi dengan objek digital dan mempelajari konsep teknis.
Sebagai contoh, siswa dapat menggunakan simulasi untuk mempelajari mekanisme mesin, memahami hubungan antarkomponen, atau mengeksplorasi objek tiga dimensi. Umpan balik haptic dapat memberikan respons tambahan ketika siswa melakukan tindakan dalam simulasi.
Pendekatan learning by doing atau belajar melalui praktik dapat membantu menghubungkan teori dengan pengalaman interaktif. Namun, teknologi ini tetap perlu didukung materi yang tepat, arahan pengajar, dan evaluasi pembelajaran.
Baca kajian selengkapnya melalui jurnal Robotics: Integrating VR/AR with Haptics into STEM Education for Multi-Sensory Learning.
Tantangan Mengembangkan Pengalaman Multisensori
Meskipun menawarkan banyak peluang, pengembangan pengalaman imersif masih menghadapi sejumlah tantangan.
Pertama, biaya perangkat dan pengembangan aplikasi dapat membatasi penggunaan teknologi ini di sekolah maupun organisasi dengan anggaran terbatas. Perangkat haptic khusus juga membutuhkan penyesuaian perangkat lunak agar responsnya sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Kedua, pengembang perlu menjaga sinkronisasi antara visual, audio, dan sentuhan. Respons yang terlambat atau tidak konsisten dapat mengganggu interaksi dan mengurangi kenyamanan.
Ketiga, pengumpulan data melalui kamera, mikrofon, serta sensor gerak memerlukan perlindungan privasi. Pengelola aplikasi perlu menjelaskan jenis data yang mereka kumpulkan, tujuan penggunaannya, dan cara melindunginya.
Terakhir, pengembang harus memastikan aksesibilitas sejak tahap perancangan. Mereka perlu menyediakan alternatif interaksi agar pengguna dengan kebutuhan sensoris yang berbeda tetap dapat memanfaatkan aplikasi.
Masa Depan Teknologi Imersif
Perkembangan perangkat keras, pemrosesan real-time, dan kecerdasan buatan berpotensi meningkatkan kemampuan sistem dalam merespons tindakan pengguna. Integrasi visual, audio spasial, dan haptic juga dapat memperluas penerapan simulasi serta pembelajaran interaktif.
Di bidang pendidikan, pendekatan multisensori dapat membantu pengguna mempelajari konsep yang sulit divisualisasikan. Dalam pelatihan industri, teknologi ini dapat mendukung simulasi prosedur dan pengenalan peralatan. Sementara itu, pengembangan aksesibilitas dapat membuka lebih banyak cara bagi penyandang disabilitas untuk berinteraksi dengan lingkungan digital.
Meski demikian, keberhasilan teknologi ini tidak hanya bergantung pada kecanggihan perangkat. Pengembang juga perlu memastikan pengalaman yang nyaman, informasi yang akurat, biaya yang sesuai, dan perlindungan data yang memadai.
Pada akhirnya, kualitas pengalaman imersif tidak cukup diukur dari ketajaman gambar. Kemampuan sistem menyelaraskan visual, suara, dan sentuhan dengan tindakan pengguna turut menentukan kualitas interaksi. Ketika setiap unsur mendukung tujuan yang sama, teknologi digital dapat menghadirkan pengalaman yang lebih intuitif, inklusif, dan bermanfaat. (Red)

















