KORELASI.CO — Pasar properti China menunjukkan pergeseran minat pembelian dari rumah baru ke rumah bekas. Sepanjang Januari-Agustus 2026, transaksi rumah bekas mencapai 550 juta meter persegi, meningkat 10,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, penjualan perumahan komersial baru turun 12,1% secara tahunan.
Dikutip dari detikProperti, Rabu (14/10/2026), Direktur Jenderal Departemen Pengawasan Pasar Real Estat di Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan-Pedesaan China, Zhang Xuetao, menyebut pangsa penjualan rumah bekas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Zhang, porsinya naik dari 27% pada 2020 menjadi 46% pada 2025. Pangsa tersebut kemudian melampaui 50%, menandai perubahan struktur pasar properti China menuju dominasi hunian yang telah tersedia.
“Pangsa yang melampaui 50% menandai transisi pasar properti menuju era stok perumahan yang sudah ada,” ujar Zhang.
Penjualan Rumah Bekas Meningkat, Persediaan Rumah Baru Menyusut
Selain perubahan pola transaksi, pasar properti China juga menunjukkan sejumlah perkembangan pada sisi harga dan persediaan. Penurunan harga rumah melambat pada Agustus 2026, sementara persediaan perumahan komersial baru yang belum terjual terus berkurang.
Berdasarkan data kementerian yang dikutip dalam laporan tersebut, luas lantai perumahan baru yang belum terjual turun 1,1% secara tahunan pada akhir Agustus. Penurunan ini berlangsung selama enam bulan berturut-turut.
Meski demikian, data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pasar properti China telah pulih sepenuhnya. Penjualan rumah baru masih mengalami penurunan tahunan, sedangkan perlambatan penurunan harga tidak serta-merta menunjukkan kenaikan harga properti.
China Siapkan Perubahan Model Bisnis Properti
Pemerintah China juga berencana menyesuaikan model pengembangan industri real estat dalam lima tahun mendatang. Zhang mengatakan kebijakan tersebut akan berfokus pada penyesuaian terhadap perubahan pasokan dan permintaan, pencegahan risiko, serta transformasi industri.
“S elama 5 tahun ke depan, China akan akan beradaptasi dengan perubahan pasokan dan permintaan perumahan, menyeimbangkan pencegahan risiko dengan transformasi industri, serta mempercepat upaya pembentukan model baru bagi pengembangan real estat,” ujar Zhang.
Salah satu arah perubahan tersebut adalah reformasi sistem pengembangan, pembiayaan, dan penjualan properti. Dalam skema yang direncanakan, setiap proyek real estat akan dikelola oleh perusahaan proyek yang memiliki status hukum independen dan dana khusus. Perusahaan induk tidak diperbolehkan mengalihkan dana proyek secara tidak semestinya.
Pada sisi pembiayaan, setiap proyek akan dipasangkan dengan bank atau konsorsium perbankan yang ditunjuk. Dana yang berkaitan dengan pengembangan, konstruksi, dan penjualan proyek wajib disetorkan ke bank tersebut, yang kemudian menyediakan pembiayaan sesuai kebutuhan proyek.
Bank akan menilai kelayakan proyek sebelum memutuskan untuk terlibat. Sementara itu, pengembang dapat memilih bank berdasarkan kebutuhan layanan pembiayaan, sehingga kedua pihak ikut menanggung risiko dan memperoleh manfaat dari proyek yang dibiayai.
Penjualan Rumah Siap Huni Diprioritaskan
China juga akan mendorong penjualan rumah komersial yang telah selesai dibangun. Dengan skema ini, pembeli dapat melihat langsung kondisi properti dan membeli hunian yang siap diserahterimakan.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengurangi risiko kegagalan serah terima rumah kepada pembeli. Adapun penjualan rumah sebelum konstruksi selesai atau melalui skema pre-sale akan diawasi secara ketat, terutama dalam pengelolaan dana hasil penjualan, guna melindungi hak pembeli.
Selain pembenahan sistem pengembangan dan pembiayaan, pemerintah China berencana menyediakan hunian terjangkau bagi masyarakat perkotaan berpenghasilan rendah. Sasaran program tersebut mencakup pendatang, generasi muda, dan pekerja kantoran berpenghasilan rendah, baik melalui skema kepemilikan maupun sewa.
Perubahan kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penataan pasar properti China tidak hanya berfokus pada transaksi, tetapi juga pada pengendalian risiko proyek, perlindungan konsumen, dan penyediaan hunian yang lebih terjangkau. (Red)



















