KORELASI.CO — Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penyediaan hunian layak bagi pekerja di kawasan industri.
Kolaborasi tersebut melibatkan pengelola kawasan industri, pengembang perumahan, perbankan, hingga investor. BP Tapera menilai kebutuhan rumah akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kawasan industri dan penyerapan tenaga kerja.
Deputi Komisioner Bidang Pemanfaatan Dana BP Tapera, Sid Herdi Kusuma, menyampaikan hal tersebut dalam ATTEC Global Investment Forum. Forum itu menjadi bagian dari rangkaian Jakarta International Investment, Trade, Tourism, and SMEs Expo (JITEX) 2026.
Kegiatan berlangsung di JIEXPO Convention Centre, Kemayoran, Jakarta, pada 18 September 2026.
Forum yang digelar Asian Trade, Tourism and Economics Council (ATTEC) bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) tersebut membahas berbagai peluang perdagangan, investasi, serta pengembangan ekosistem ekonomi Indonesia.
KPR Subsidi Jadi Opsi Pembiayaan Hunian Pekerja
Dalam forum tersebut, BP Tapera menyoroti kebutuhan hunian yang muncul seiring berkembangnya kawasan industri.
Sid mengatakan keberadaan kawasan industri membutuhkan sumber daya manusia dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Karena itu, pengembangan kawasan industri juga perlu memperhatikan kesejahteraan pekerja.
“Setiap kawasan industri menurut pandangan kami memerlukan sumber daya manusia yang mumpuni. Karena jumlah penyerapan pegawai dan kebutuhan pekerja akan terus meningkat seiring dengan berkembangnya kawasan industri.”
Menurut Sid, kepemilikan rumah menjadi salah satu bentuk kesejahteraan yang banyak diharapkan pekerja.
BP Tapera kemudian mengambil peran melalui penyediaan akses pembiayaan perumahan. Salah satu instrumen yang ditawarkan ialah KPR subsidi bagi masyarakat yang memenuhi ketentuan program.
“Salah satu kesejahteraan yang selalu diharapkan oleh para pekerja itu adalah berumah. Di sinilah peran BP Tapera masuk.”
BP Tapera Buka Kerja Sama dengan Kawasan Industri
BP Tapera melihat pekerja kawasan industri sebagai salah satu kelompok yang dapat memperoleh manfaat dari program perumahan.
Sid mengatakan penerima manfaat program tiga juta rumah banyak berasal dari kalangan buruh yang bekerja di kawasan industri.
Atas dasar itu, BP Tapera membuka peluang kolaborasi dengan pengelola kawasan industri. Kerja sama tersebut diarahkan agar penyediaan rumah bagi pekerja dapat dirancang sejak awal dan menyesuaikan perkembangan kawasan.
“Kami ingin berkolaborasi bagaimana secara strategis dan terencana, kami bisa mendukung kawasan industri ini dengan perkembangan perumahannya.”
Pendekatan tersebut memungkinkan kebutuhan hunian masuk dalam perencanaan kawasan. Dengan demikian, pekerja tidak hanya memperoleh tempat bekerja, tetapi juga memiliki pilihan tempat tinggal yang dapat mendukung aktivitas sehari-hari.
Penyaluran KPR Subsidi Capai 50.750 Unit
Dalam menjalankan program pembiayaan, BP Tapera bekerja sama dengan 43 mitra perbankan yang menyalurkan KPR subsidi.
Berdasarkan data realisasi BP Tapera yang disampaikan dalam forum tersebut, hingga September 2026 penyaluran KPR Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mencapai sekitar 50.750 unit rumah.
Nilai pembiayaan yang tercatat mencapai sekitar Rp18,8 triliun.
Data tersebut menunjukkan skala penyaluran pembiayaan perumahan yang dijalankan melalui program FLPP. Program tersebut menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan rumah.
Bagi pekerja di kawasan industri, akses pembiayaan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan bersama dengan ketersediaan lokasi dan harga rumah.
KPR Subsidi Tawarkan DP 1 Persen dan Bunga 5 Persen
BP Tapera menyebut program KPR subsidi memberikan sejumlah kemudahan pembiayaan bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan.
Salah satu skema yang disampaikan ialah uang muka atau down payment (DP) sebesar 1 persen. Program tersebut juga menawarkan suku bunga 5 persen yang disebut tetap hingga kredit selesai.
“Melalui program ini DP-nya hanya perlu 1 persen saja. Suku bunganya 5 persen dan ini tidak berubah hingga KPR tersebut lunas dan rumah menjadi milik.”
Selain itu, tenor pembiayaan dapat mencapai 40 tahun. Menurut Sid, tenor yang panjang dapat membantu membuat besaran cicilan lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Dengan 700 ribu rupiah per bulan, masyarakat sudah dapat menghuni rumah dan mencicil rumah tersebut hingga lunas.”
Namun, besaran cicilan tetap bergantung pada ketentuan pembiayaan, harga rumah, tenor, dan persyaratan program yang berlaku bagi masing-masing pemohon.
Ada Bantuan Uang Muka hingga Dukungan PPN
Selain skema DP dan suku bunga, BP Tapera menyebut program tersebut mendapat dukungan lain.
Dukungan itu antara lain bantuan uang muka sebesar Rp4 juta dan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). BP Tapera juga menyebut adanya dukungan premi asuransi dari pihak perbankan.
Berbagai fasilitas tersebut menjadi bagian dari skema pembiayaan perumahan yang ditawarkan kepada masyarakat yang memenuhi kriteria.
BP Tapera juga tidak hanya mengembangkan pembiayaan untuk rumah tapak. Lembaga tersebut turut menyediakan skema KPR rusun subsidi.
Pilihan rumah susun dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin tinggal lebih dekat dengan tempat kerja, khususnya di kawasan perkotaan dengan keterbatasan lahan.
Hunian Pekerja Perlu Menjadi Bagian Kawasan Industri
Ketua Umum ATTEC Budihardjo Iduansjah menilai pembangunan kawasan ekonomi dan industri membutuhkan fasilitas pendukung.
Menurutnya, keberadaan tenaga kerja dan infrastruktur saja belum cukup. Pekerja juga membutuhkan tempat tinggal yang mendukung aktivitas mereka.
“Investasi di kawasan ekonomi dan industri tidak hanya membutuhkan pembangunan pabrik dan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan dukungan sumber daya manusia serta fasilitas pendukung, termasuk penyediaan rumah bagi para pekerja.”
Penyediaan hunian pekerja dengan demikian dapat menjadi bagian dari ekosistem kawasan industri.
Konsep tersebut juga dapat mempertemukan kepentingan beberapa pihak. Pengelola kawasan industri membutuhkan tenaga kerja, pekerja membutuhkan hunian, sementara pengembang dan perbankan memiliki peran dalam menyediakan rumah serta pembiayaannya.
Investasi dan Perdagangan Dapat Mendorong Ekosistem Ekonomi
Forum ATTEC Global Investment Forum juga membahas hubungan antara perdagangan internasional dan investasi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso yang hadir dalam forum tersebut mengatakan perjanjian perdagangan dapat membuka peluang investasi di Indonesia.
“Kita mempunyai banyak perjanjian dagang. Perjanjian tersebut tidak hanya memenuhi perdagangan, tetapi juga memenuhi investasi. Ketika kita mempunyai banyak peluang ekspor dan akses ekspor ke berbagai negara, dengan sendirinya investasi akan datang, terutama investasi yang berorientasi ekspor.”
Pernyataan tersebut menempatkan investasi dan perdagangan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang saling berkaitan.
Ketika aktivitas industri berkembang, kebutuhan terhadap tenaga kerja dan fasilitas pendukung juga dapat meningkat. Hunian pekerja menjadi salah satu kebutuhan yang perlu masuk dalam perencanaan kawasan.
Kolaborasi Jadi Kunci Penyediaan Hunian Pekerja
BP Tapera berharap forum tersebut dapat membuka lebih banyak peluang kerja sama dengan investor, pengembang, pengelola kawasan industri, dan perbankan.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas akses pekerja terhadap hunian yang layak dan pembiayaan yang sesuai dengan ketentuan program.
Sid menilai penyediaan rumah bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan tempat tinggal. Akses terhadap hunian juga berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
“Ini yang selalu kita komunikasikan kepada masyarakat khususnya buruh, agar ini meningkatkan kesejahteraan, kesehatan, dan pada akhirnya terjadi wealth creation bagi setiap individu tersebut.”
Dengan pendekatan kolaboratif, BP Tapera mendorong agar pengembangan kawasan industri berjalan beriringan dengan penyediaan hunian pekerja.
Kawasan industri tidak hanya perlu menyiapkan fasilitas produksi dan infrastruktur. Ketersediaan tempat tinggal yang layak bagi pekerja juga menjadi bagian dari ekosistem kawasan yang perlu diperhatikan.
Program KPR subsidi kemudian menjadi salah satu instrumen yang ditawarkan untuk memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan.
Ke depan, kolaborasi antara BP Tapera, pengelola kawasan industri, pengembang, perbankan, dan investor diharapkan dapat memperkuat penyediaan hunian pekerja sekaligus mendukung pertumbuhan kawasan ekonomi secara berkelanjutan. (Red)
KORELASI.CO – Roadmap perumahan 2025–2029 menjadi fokus Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Kedua kementerian menyelaraskan strategi pembangunan untuk mempercepat pencapaian…
Penyaluran KPR Subsidi 2026 Capai 181.307 Unit, Rumah Susun Baru 23 Unit KORELASI.CO – Penyaluran KPR subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mencapai 181.307 unit hingga 14 Oktober…
KORELASI.CO – Bisnis properti pergudangan mulai menjadi salah satu segmen yang diperhatikan pengembang di tengah pertumbuhan investasi nasional. Kebutuhan ruang untuk penyimpanan barang, distribusi, dan rantai pasok mendorong pentingnya pengembangan…
KORELASI.CO – Penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mencapai 177.161 unit hingga 9 Oktober 2026. Realisasi tersebut setara dengan 50,62% dari target 350.000…
KORELASI.CO — Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) bersama BP Tapera meninjau Perumahan Buana Subang Raya 2, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada 5 Oktober 2026. Kunjungan ini bertujuan melihat perkembangan…
KORELASI.CO — Rusun subsidi di kawasan Manggarai, Jakarta, kini menggunakan nama Maraya Residences. KAI Properti merencanakan harga hunian tersebut mulai Rp294 juta. Maraya Residences menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Namun,…