KORELASI.CO – Teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berkembang dan digunakan dalam berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan hingga layanan digital. Di sisi lain, kemampuan AI membuat konten yang menyerupai manusia juga dimanfaatkan untuk menjalankan penipuan digital melalui deepfake scam.
Deepfake scam memanfaatkan video, gambar, atau suara hasil manipulasi AI untuk membuat pelaku seolah-olah merupakan orang yang dikenal korban. Menurut World Economic Forum (WEF), kemajuan AI generatif turut meningkatkan risiko penyalahgunaan konten manipulatif untuk penipuan, disinformasi, hingga pencurian identitas.
Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap konten digital yang telah dimanipulasi menggunakan AI.
Ancaman ini menjadi semakin sulit dikenali karena teknologi deepfake dapat meniru wajah, ekspresi, dan karakter suara seseorang dengan tingkat kemiripan yang tinggi. Karena itu, mengenali pola penipuan dan membiasakan diri melakukan verifikasi menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kehilangan uang maupun penyalahgunaan data pribadi.
Apa Itu Deepfake Scam?
Deepfake scam merupakan modus penipuan digital yang memanfaatkan teknologi deep learning untuk membuat atau mengubah konten audiovisual sehingga terlihat seperti materi asli.
Teknologi deepfake dapat digunakan untuk mengganti atau meniru wajah seseorang dalam video, menghasilkan suara yang menyerupai target tertentu, maupun menggabungkan elemen visual dan audio agar hasil akhirnya terlihat meyakinkan.
National Institute of Standards and Technology (NIST) mendefinisikan deepfake sebagai media sintetis yang dibuat atau dimanipulasi dengan bantuan AI sehingga menyerupai individu yang sebenarnya.
Dalam praktik penipuan, teknologi tersebut dapat digunakan untuk membangun rasa percaya korban. Setelah korban yakin dengan identitas pelaku, penipu kemudian dapat meminta uang, informasi pribadi, kredensial, atau akses ke akun tertentu.
Modusnya bisa beragam. Pelaku misalnya berpura-pura sebagai anggota keluarga yang sedang membutuhkan dana, menyamar sebagai pimpinan perusahaan dan meminta transfer, atau menggunakan identitas pejabat tertentu untuk memperoleh informasi yang seharusnya bersifat rahasia.
Mengapa Deepfake Semakin Sulit Dibedakan?
Salah satu faktor yang membuat deepfake scam berkembang adalah semakin mudahnya teknologi AI generatif digunakan. Bahan berupa video maupun rekaman suara yang tersedia di internet dapat dimanfaatkan untuk membuat model yang meniru karakteristik target.
Kemampuan menghasilkan konten palsu juga semakin berkembang. Manipulasi yang dahulu mungkin terlihat kasar kini dapat menghasilkan gerakan wajah, ekspresi, dan suara yang tampak lebih natural.
Namun, persoalannya bukan hanya pada kualitas teknologinya. Pelaku juga dapat memanfaatkan kondisi emosional korban dengan menciptakan situasi yang seolah-olah membutuhkan respons cepat.
Dalam kondisi panik atau terburu-buru, seseorang bisa saja melewatkan proses verifikasi. Artinya, deepfake scam bekerja melalui kombinasi antara manipulasi teknologi dan rekayasa sosial.
Tanda Deepfake Scam yang Perlu Diperhatikan
Tidak semua konten palsu dapat dikenali hanya dengan melihat satu ciri. Namun, sejumlah kejanggalan berikut dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Perhatikan Gerakan Wajah
Gerakan wajah yang terlihat kurang natural dapat menjadi salah satu petunjuk. Misalnya, kedipan mata tampak tidak biasa, pergerakan bibir kurang sesuai dengan suara, atau perubahan ekspresi terlihat janggal.
Pada kondisi tertentu, area wajah juga dapat terlihat kurang jelas ketika objek bergerak. Perubahan pencahayaan, bayangan, maupun tekstur kulit yang tidak konsisten juga dapat menjadi tanda bahwa sebuah video telah mengalami manipulasi.
Meski demikian, keberadaan satu tanda saja tidak otomatis membuktikan sebuah video merupakan deepfake. Pemeriksaan melalui sumber lain tetap diperlukan.
Dengarkan Karakter Suara
Deepfake berbasis suara dapat menghasilkan suara yang sangat menyerupai orang sebenarnya. Namun, hasil manipulasi tertentu masih mungkin menunjukkan perbedaan, seperti intonasi yang terlalu datar, jeda yang terasa tidak natural, atau pengucapan kata tertentu yang terdengar berbeda.
Karena itu, jika seseorang yang dikenal tiba-tiba menghubungi dengan gaya bicara yang terasa tidak seperti biasanya, jangan langsung memenuhi permintaannya. Konfirmasikan identitas orang tersebut melalui saluran komunikasi lain.
Waspadai Permintaan yang Terlalu Mendesak
Tekanan waktu merupakan pola yang perlu diperhatikan dalam penipuan berbasis deepfake. Pelaku dapat menciptakan cerita darurat supaya korban segera bertindak tanpa melakukan pemeriksaan.
Permintaan seperti transfer uang, pemberian kode OTP, penyerahan data pribadi, atau akses ke akun perlu diperiksa terlebih dahulu.
Semakin sensitif permintaannya, semakin penting untuk menghentikan proses sementara dan memastikan siapa sebenarnya pihak yang menghubungi.
Cara Mengurangi Risiko Menjadi Korban
Konfirmasi Menggunakan Kanal Berbeda
Jangan menjadikan video atau suara sebagai satu-satunya dasar untuk mempercayai sebuah permintaan. Jika seseorang meminta tindakan penting melalui pesan suara, video, atau panggilan, hubungi orang tersebut melalui nomor atau aplikasi lain yang selama ini digunakan.
Langkah sederhana ini dapat membantu membedakan komunikasi asli dari identitas yang hanya ditiru menggunakan AI.
Jangan Langsung Mempercayai Konten Audiovisual
Kemajuan AI generatif membuat video dan suara semakin mudah dimanipulasi. Karena itu, konten audiovisual sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bukti keaslian tanpa pemeriksaan tambahan.
Untuk permintaan yang berkaitan dengan uang atau informasi sensitif, lakukan verifikasi melalui sumber lain sebelum mengambil tindakan.
Batasi Informasi Pribadi di Internet
Foto, video, dan rekaman suara yang tersedia secara terbuka dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat konten manipulatif.
Karena itu, pengguna perlu mempertimbangkan kembali informasi pribadi yang dibagikan di media sosial. Pengaturan privasi akun juga perlu diperiksa agar informasi yang tidak diperlukan tidak mudah diakses publik.
Perkuat Perlindungan Akun
Keamanan akun menjadi lapisan perlindungan lain yang tidak kalah penting. Gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk akun penting, kemudian aktifkan autentikasi dua faktor atau 2FA.
Menurut bahan yang dihimpun, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebut autentikasi berlapis dapat membantu mengurangi risiko penyalahgunaan akun akibat kredensial yang dicuri.
Jika Terlanjur Menjadi Target Deepfake Scam
Jika menerima konten yang dicurigai sebagai deepfake, langkah pertama adalah tidak mengikuti instruksi yang diberikan pelaku.
Hentikan komunikasi untuk sementara dan simpan bukti yang tersedia. Bukti tersebut dapat berupa percakapan, rekaman, tangkapan layar, maupun informasi transaksi jika sudah terjadi perpindahan dana.
Pastikan Identitas Pihak yang Menghubungi
Setelah komunikasi dihentikan, lakukan konfirmasi kepada orang atau institusi yang identitasnya digunakan oleh pelaku.
Jika pelaku mengaku sebagai anggota keluarga, atasan, pejabat, atau perwakilan lembaga tertentu, gunakan kanal komunikasi yang sudah dikenal dan dipercaya untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.
Apabila korban sudah telanjur memberikan data atau mengirimkan uang, segera lakukan langkah pengamanan tambahan. Langkah yang dapat dilakukan berdasarkan bahan yang tersedia antara lain mengganti kata sandi, menghubungi bank atau penyedia layanan keuangan, serta mengaktifkan fitur keamanan tambahan.
Simpan Bukti dan Laporkan
Bukti digital dapat dibutuhkan ketika korban melaporkan kejadian. Pelaporan dapat dilakukan kepada pihak kepolisian, BSSN, Komdigi, maupun platform digital yang digunakan dalam modus tersebut.
Informasi tersebut penting untuk dicantumkan secara akurat agar korban tidak justru diarahkan ke kanal palsu saat berupaya melaporkan penipuan.
Deepfake Scam Juga Menjadi Tantangan bagi Organisasi
Risiko deepfake tidak hanya berkaitan dengan pengguna individu. Organisasi juga perlu memperhatikan kemungkinan penyalahgunaan identitas digital, terutama ketika komunikasi palsu digunakan untuk meminta transfer dana, informasi internal, atau akses ke sistem.
Perlindungan terhadap ancaman berbasis AI karena itu tidak cukup hanya mengandalkan kewaspadaan pengguna. Berdasarkan bahan yang diberikan, organisasi juga membutuhkan sistem keamanan yang mampu mendeteksi, mencegah, dan merespons potensi serangan secara proaktif.
Bahan sumber menyebut Enterprise Solutions Telkom menyediakan solusi keamanan siber, termasuk Security Operations Center (SOC), Managed Security Services, dan perlindungan infrastruktur digital.
Waspada Sebelum Mempercayai Video atau Suara
Deepfake scam menunjukkan bagaimana teknologi AI dapat digunakan untuk memanipulasi identitas digital. Kemampuan menghasilkan suara, gambar, dan video yang menyerupai orang asli membuat pengguna perlu lebih berhati-hati ketika menerima permintaan yang berkaitan dengan uang, data, atau akses akun.
Salah satu kebiasaan penting adalah tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan suara atau video. Verifikasi melalui kanal komunikasi berbeda, pemeriksaan konteks, perlindungan data pribadi, serta pengamanan akun dapat menjadi langkah untuk mengurangi risiko.
Pada akhirnya, kewaspadaan digital tidak berarti setiap video atau panggilan harus dianggap palsu. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan untuk berhenti sejenak, memeriksa identitas, dan melakukan verifikasi sebelum memenuhi permintaan yang berisiko. (Red)



















