KORELASI.CO – Perkembangan teknologi robot humanoid menunjukkan kemajuan yang semakin terlihat sepanjang 2025 hingga 2026. Sejumlah perusahaan teknologi, termasuk Boston Dynamics, Tesla, dan Figure AI, terus mengembangkan robot berbentuk manusia yang dirancang untuk menjalankan berbagai pekerjaan, termasuk di kawasan industri dan fasilitas logistik.
Kemajuan tersebut perlahan membawa robot humanoid keluar dari sekadar gambaran dalam film atau cerita fiksi. Meski demikian, teknologi ini masih menghadapi berbagai persoalan sebelum dapat digunakan secara luas, terutama terkait ongkos produksi, ketahanan baterai, serta kemampuan kognitif yang belum menyamai manusia.
Sejumlah Perusahaan Kembangkan Robot Humanoid
Boston Dynamics menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan Atlas, robot humanoid yang memadukan rekayasa mekanik dengan algoritma reinforcement learning. Kombinasi tersebut digunakan untuk mendukung kemampuan robot dalam bergerak sekaligus mempertahankan keseimbangan.
Atlas diketahui mampu melakukan sejumlah gerakan, termasuk berlari dan melompat. Robot tersebut juga dikembangkan agar dapat mempertahankan keseimbangan saat berhadapan dengan permukaan yang tidak rata.
Sementara itu, Tesla mengembangkan Optimus dengan fokus pada pemanfaatannya untuk proses otomatisasi di lingkungan pabrik. Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan otomatisasi tenaga kerja dalam skala industri.
Perusahaan lainnya, Figure AI, mengembangkan Figure 02. Robot tersebut dibekali kemampuan manipulasi tangan yang presisi serta model visio-linguistik yang memungkinkan robot memahami tugas berdasarkan konteks.
Dengan kemampuan tersebut, Figure 02 dapat menyesuaikan gerakan yang dilakukan berdasarkan pekerjaan yang dihadapi, bukan hanya menjalankan rangkaian gerakan yang telah ditentukan sebelumnya.
Perkembangan Cepat Belum Menjamin Penggunaan Luas
Di balik kemajuan teknologi yang ditampilkan, robot humanoid sebenarnya masih berada dalam tahap awal pengembangan. Bahan yang tersedia menyebut International Data Corporation (IDC) mencatat bahwa mayoritas pemanfaatan robot humanoid pada 2025 masih berkaitan dengan sektor pertunjukan dan edukasi.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan yang ditampilkan dalam berbagai demonstrasi belum sepenuhnya menggambarkan tingkat penggunaan robot humanoid dalam aktivitas industri sehari-hari. Pengembangan prototipe juga belum secara otomatis menunjukkan bahwa teknologi tersebut sudah siap diterapkan secara massal.
Biaya pembuatan menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Selain membutuhkan biaya produksi tinggi, robot humanoid juga masih menghadapi keterbatasan dalam hal kapasitas baterai.
Kedua faktor tersebut menjadi bagian dari tantangan yang harus diatasi sebelum robot humanoid dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai sektor.
Riset Robot Humanoid di Indonesia
Di Indonesia, penelitian mengenai robot humanoid mulai berkembang, meski penerapannya masih dalam skala terbatas. Sejumlah mahasiswa dan peneliti perguruan tinggi mengembangkan purwarupa robot yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan tertentu di masyarakat.
Salah satu pengembangan yang disebut dalam bahan berkaitan dengan sistem kendali pada purwarupa robot untuk membantu anak dengan gangguan spektrum autisme.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan robot humanoid tidak hanya berkaitan dengan kepentingan manufaktur atau logistik. Teknologi serupa juga dapat diarahkan untuk kebutuhan sosial, meskipun implementasinya masih membutuhkan riset dan pengujian lebih lanjut.
Muncul Isu Pekerjaan, Data, dan Privasi
Perkembangan robot humanoid tidak hanya menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan teknis. Potensi penggunaan robot untuk menggantikan atau mengotomatisasi pekerjaan manusia juga menjadi salah satu isu yang mulai diperhatikan.
Aspek keamanan data dan privasi turut menjadi perhatian. Ketika robot semakin terhubung dengan sistem kecerdasan buatan, pengelolaan data menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangannya.
Atas dasar itu, pemerintah dan kalangan akademisi dinilai perlu menyiapkan aturan serta pedoman etika untuk mengantisipasi berbagai persoalan yang dapat muncul seiring perkembangan robot humanoid.
Robot Humanoid Belum Sepenuhnya Menyerupai Manusia
Kemampuan robot humanoid memang terus meningkat, tetapi teknologi tersebut masih memiliki batasan jika dibandingkan dengan kemampuan manusia secara menyeluruh.
Robot saat ini lebih efektif ketika digunakan untuk pekerjaan tertentu yang memiliki pola dan struktur jelas. Sementara itu, kemampuan untuk beradaptasi terhadap berbagai situasi dan menjalankan proses kognitif secara fleksibel masih belum menyamai manusia.
Kemajuan kecerdasan buatan dan teknologi mekanik tetap membuka kemungkinan peningkatan kemampuan robot pada masa mendatang. Perpaduan antara sistem AI dan rekayasa mekanik menjadi salah satu faktor yang akan memengaruhi perkembangan robot humanoid berikutnya.
Bagi mahasiswa dan peneliti yang menekuni bidang robotika, perkembangan tersebut membuka ruang untuk ikut menentukan arah teknologi pada masa depan. Pengembangannya tidak hanya akan bergantung pada kemampuan teknis, tetapi juga pada kebutuhan industri, dampak sosial, keamanan, dan aspek etika. (Red)



















