Korelasi.co – Dalam laporan terkini Reco.ai disebutkan 4 dari 5 atau 80% tools AI berjalan tanpa pengawasan IT. Hal ini tentu menarik perhatian khususnya pelaku usaha di bidang teknologi dan keamanan cyber.
Dalam rilisnya yang bertajuk “State of Agent Security 2026”, menunjukan akumulasi negatif terkait kerentanan data sensitif perusahaan yang akan bocor karena ketidakhadiran pengawasan tim departemen IT misalnya, aplikasi AI, termasuk browser agents dan tools integrasi dan beberspa platform AI lainnya.
Reco.ai melakukan analisis telemetri terhadap 62 perusahaan skala enterprise di sektor layanan keuangan, kesehatan, ritel, dan telekomunikasi antara 1 Januari hingga 1 Agustus 2026
Di tengah adopsi AI yang masif oleh berbagai macam perusahaan, keamanan data sensitif menjadi prioritas utama. Reco.ai melakukan analisis terhadap 62 perusahaan enterprise di sektor finansial, kesehatan, ritel, dan telekomunikasi.
Yang menjadi sub perhatian dalam laporan tersebut menyebutkan, banyak perusahaan kecil yang menggunakan 414 tools AI per 1.000 karyawan tanpa persetujuan departemen IT.
Fenomena ini menunjukkan bahwa, aturan yang berlaku untuk pengadaan SaaS (Software as a Service) tidak efektif ketika diterapkan pada ekstensi browser atau tools AI ringan lainnya.
Hal tersebut berimplikasi terbukanya celah keamanan data perusahaan. Dalam rilis yang sama Reco.ai mengemukakan 500 agent tools dan 62% di antaranya memiliki kemampuan ganda. Kemampuannya ialah dapat membaca data lokal di perangkat karyawan sekaligus terhubung ke internet.
Yang lebih berbahaya, agen-agen ini mewarisi izin akses (permissions) dari pengguna yang mempekerjakannya. Artinya, jika seorang karyawan memiliki akses ke data keuangan sensitif, maka agen AI yang ia gunakan juga secara otomatis memiliki akses yang sama, tanpa pengawasan ketat dari tim IT.
Kemudian, selain permasalahan pengawasan dalam laporan Reco.ai laporan tersebut juga mengidentifikasi 637 kerentanan keamanan yang terkait dengan agen AI dan model bahasa besar (LLM).
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai “risiko operas ional” bagi organisasi yang telah mengandalkan AI dalam alur kerja sehari-hari.
Ofter Klein, CEO Reco.ai menghimbau dari temuan tersebut bahwa hal ini dapat membuat organisasi terpapar pada kelas risiko operasional baru, di mana agen yang tertanam dalam aplikasi dapat beroperasi melalui izin yang ada, memberikan akses OAuth, dan akses alur kerja, menciptakan kombinasi beracun yang mengekspos data dan memicu tindakan di luar persetujuan pemiliknya sehingga rentan terhadap kebocoran data dan menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan cyber.
“Agen AI telah berpindah dari fase eksperimen ke alur kerja bisnis sehari-hari, tetapi temuan kami menunjukkan hanya 20% tools AI di ekosistem enterprise yang saat ini diawasi oleh IT,” ujarnya, dikutip dari reco.ai Senin, (14/09/26).
Dari temuan ini sangat jelas bagi organisasi perusahaan. Diperlukan langkah konkret untuk memberikan tim IT sumber daya yang memadai guna mengelola dan membatasi penggunaan AI yang tidak sah.
Pengawasan yang ketat dan kebijakan yang adaptif menjadi kunci untuk memanfaatkan potensi AI tanpa mengorbankan keamanan data perusahaan.

















