KORELASI.CO — Mobil listrik vs mobil bensin menjadi pertimbangan penting bagi keluarga yang ingin membeli kendaraan. Konsumen tidak cukup hanya melihat harga mobil di showroom. Biaya operasional, perawatan, infrastruktur pengisian, hingga nilai jual kembali juga perlu masuk dalam perhitungan.
Bagi keluarga, mobil memiliki banyak fungsi. Kendaraan digunakan untuk aktivitas sehari-hari, mengantar anak, berbelanja, bepergian ke luar kota, hingga memenuhi kebutuhan mendadak.
Karena itu, konsumen perlu menghitung biaya kepemilikan selama menggunakan kendaraan. Harga pembelian memang penting, tetapi biaya setelah mobil berada di garasi juga dapat memengaruhi pengeluaran keluarga.
Harga Beli Mobil Bensin dan Mobil Listrik
Mobil berbahan bakar bensin masih menawarkan banyak pilihan. Konsumen dapat menemukan kendaraan baru maupun bekas dalam berbagai rentang harga.
Segmen mobil kota dan kendaraan keluarga juga memiliki banyak pilihan. Kondisi tersebut membuat mobil bensin tetap menjadi salah satu pilihan bagi konsumen yang mencari kendaraan dengan harga awal beragam.
Di sisi lain, produsen mulai menawarkan mobil listrik dengan harga yang semakin kompetitif. Namun, beberapa model masih memiliki harga pembelian lebih tinggi daripada mobil bensin dengan ukuran dan fungsi yang sebanding.
Karena itu, konsumen sebaiknya tidak langsung menentukan pilihan hanya berdasarkan harga pembelian.
Penelitian Rio Pradana Manggala Putra, Zsuzsanna Csereklyei, dan Lasantha Meegahapola menunjukkan bahwa mobil listrik berbasis baterai di Indonesia semakin kompetitif jika konsumen menghitung total biaya kepemilikan.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa insentif dan pengurangan pajak dapat mendukung kelayakan ekonomi kendaraan listrik.
Dengan demikian, harga beli belum cukup untuk menentukan kendaraan yang paling ekonomis bagi sebuah keluarga.
Mobil Listrik Berpotensi Hemat Biaya Operasional
Salah satu perbedaan utama dalam mobil listrik vs mobil bensin terletak pada sumber energi. Mobil listrik menggunakan energi listrik untuk menggerakkan motor. Sementara itu, mobil bensin menggunakan bahan bakar minyak sebagai sumber energi.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi biaya penggunaan sehari-hari. Keluarga yang menggunakan kendaraan secara rutin dengan jarak tempuh tinggi dapat menghitung biaya energi sebagai salah satu komponen utama.
Mobil listrik juga memiliki sistem penggerak yang lebih sederhana dibandingkan mobil dengan mesin pembakaran internal. Karena itu, pengguna tidak perlu melakukan sejumlah perawatan tertentu yang terdapat pada mesin bensin, seperti penggantian oli mesin.
Namun, konsumen tetap perlu memperhitungkan biaya perawatan kendaraan listrik. Baterai, sistem kelistrikan, ban, rem, dan komponen lain tetap membutuhkan pemeriksaan sesuai kebutuhan dan rekomendasi pabrikan.
Selain itu, harga pembelian dan depresiasi juga perlu masuk dalam perhitungan. Penelitian mengenai total cost of ownership (TCO) di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat penggunaan dan lama kepemilikan turut memengaruhi daya saing ekonomi mobil listrik.
Infrastruktur Pengisian Jadi Pertimbangan
Kemudahan memperoleh energi menjadi faktor penting ketika membandingkan mobil listrik dan mobil bensin.
Mobil bensin dapat mengandalkan jaringan SPBU yang sudah tersebar di berbagai wilayah. Konsumen juga dapat mengisi bahan bakar dalam waktu relatif singkat sebelum melanjutkan perjalanan.
Sementara itu, mobil listrik membutuhkan akses terhadap fasilitas pengisian daya. Kondisi tersebut membuat calon pembeli perlu mempertimbangkan lokasi rumah dan pola perjalanan.
Keluarga yang memiliki fasilitas listrik yang mendukung dapat mengisi daya mobil di rumah. Pengguna dapat melakukan pengisian ketika kendaraan tidak digunakan.
Cara tersebut dapat memberikan kemudahan bagi pemilik yang menggunakan mobil untuk aktivitas rutin. Pengguna juga tidak selalu harus mengunjungi stasiun pengisian umum.
Sebaliknya, konsumen yang tidak memiliki fasilitas pengisian pribadi perlu memperhatikan lokasi stasiun pengisian umum. Ketersediaan fasilitas tersebut menjadi salah satu faktor penting sebelum membeli mobil listrik.
Penelitian mengenai adopsi kendaraan listrik di Indonesia juga menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur pengisian berkaitan dengan keputusan konsumen dalam membeli kendaraan listrik.
Nilai Jual Kembali Perlu Dihitung
Selain harga beli dan biaya operasional, konsumen perlu memperhatikan nilai jual kembali. Faktor ini menjadi penting bagi keluarga yang memiliki rencana mengganti kendaraan dalam beberapa tahun.
Mobil konvensional memiliki pasar kendaraan bekas yang relatif matang. Konsumen dapat menemukan banyak pembanding harga berdasarkan merek, model, tahun produksi, dan kondisi kendaraan.
Sementara itu, pasar mobil listrik bekas masih terus berkembang. Perubahan teknologi dapat memengaruhi minat konsumen terhadap kendaraan listrik generasi sebelumnya.
Kapasitas baterai juga menjadi salah satu perhatian. Selain itu, munculnya model baru dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap harga mobil listrik bekas.
Karena itu, calon pembeli perlu memperhitungkan potensi depresiasi sebelum mengambil keputusan.
Mobil Listrik vs Mobil Bensin: Hitung Total Biaya
Pada akhirnya, mobil listrik vs mobil bensin tidak memiliki jawaban yang sama untuk setiap keluarga. Pilihan kendaraan sangat bergantung pada kebutuhan, pola perjalanan, kemampuan finansial, dan fasilitas yang tersedia.
Konsumen yang mengutamakan harga pembelian, fleksibilitas perjalanan, kemudahan mendapatkan bahan bakar, dan pasar mobil bekas dapat mempertimbangkan mobil bensin.
Sebaliknya, mobil listrik dapat menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan keluarga yang memiliki akses pengisian di rumah. Pilihan tersebut juga relevan bagi pengguna yang berkendara secara rutin dan menempuh jarak cukup tinggi.
Lama kepemilikan juga perlu menjadi perhatian. Konsumen yang berencana menggunakan kendaraan dalam jangka panjang dapat menghitung biaya energi dan perawatan secara lebih menyeluruh.
Gunakan Pendekatan Total Cost of Ownership
Agar keputusan lebih terukur, konsumen dapat menggunakan pendekatan total cost of ownership (TCO). Metode ini membantu pembeli melihat biaya kendaraan selama masa penggunaan, bukan hanya harga saat membeli.
Beberapa komponen yang dapat dihitung meliputi:
- harga pembelian;
- uang muka dan cicilan;
- biaya listrik atau bahan bakar;
- biaya perawatan;
- pajak kendaraan;
- biaya asuransi;
- potensi depresiasi; dan
- perkiraan harga jual kembali.
Setelah menghitung komponen tersebut, konsumen dapat membandingkan biaya mobil listrik dengan mobil bensin sesuai pola penggunaan masing-masing.
Sebagai contoh, keluarga yang jarang menggunakan kendaraan mungkin lebih mempertimbangkan harga pembelian dan biaya kepemilikan tetap. Sebaliknya, keluarga yang setiap hari menggunakan mobil untuk perjalanan jauh dapat memberikan perhatian lebih besar pada biaya energi.
Dengan pendekatan tersebut, konsumen tidak hanya mengejar kendaraan dengan harga awal paling rendah. Mereka juga dapat melihat biaya yang muncul selama mobil digunakan.
Sesuaikan Pilihan dengan Kebutuhan Keluarga
Perbandingan mobil listrik vs mobil bensin pada akhirnya perlu mengikuti kebutuhan setiap pengguna. Tidak semua keluarga memiliki pola perjalanan, fasilitas rumah, dan kemampuan finansial yang sama.
Sebelum membeli, calon konsumen sebaiknya menghitung jarak tempuh harian, frekuensi perjalanan luar kota, ketersediaan tempat pengisian, biaya perawatan, serta rencana penggunaan kendaraan.
Selain itu, konsumen perlu membandingkan beberapa model dengan ukuran dan fungsi yang sebanding. Cara tersebut memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai biaya kepemilikan.
Dengan menghitung seluruh komponen tersebut, keluarga dapat menentukan kendaraan berdasarkan kebutuhan dan pola penggunaan. Jadi, keputusan tidak hanya bergantung pada harga yang tercantum di showroom. (Red)



















