Baterai Mobil Listrik Bisa Bertahan Berapa Lama? Ini Faktor Penentunya

Baterai Mobil Listrik Bertahan Berapa Lama? Ini Faktornya

KORELASI.CO – Baterai mobil listrik menjadi salah satu komponen paling penting sekaligus mahal pada kendaraan listrik. Karena itu, daya tahan baterai sering menjadi pertimbangan calon konsumen sebelum membeli mobil listrik.

Pertanyaan tentang berapa lama baterai dapat bertahan tidak cukup dijawab hanya dengan menghitung usia kendaraan. Kondisi baterai dipengaruhi berbagai faktor, seperti pola penggunaan, temperatur, frekuensi pengisian, jarak tempuh, hingga sistem pengelolaan baterai.

Secara umum, banyak produsen mobil listrik memberikan garansi baterai sekitar delapan tahun atau 160.000 kilometer. Ketentuan tersebut dapat berbeda sesuai merek dan model kendaraan.

Kajian yang diterbitkan Nature Energy juga mencatat bahwa banyak produsen memberikan garansi sekitar delapan tahun atau 100.000 mil.

Namun, berakhirnya masa garansi tidak berarti baterai langsung berhenti bekerja. Baterai tetap dapat digunakan, meskipun kapasitas penyimpanan energinya secara perlahan mengalami penurunan.

Kapasitas Baterai Mobil Listrik Menurun Bertahap

Calon pembeli perlu memahami bahwa baterai mobil listrik tidak otomatis rusak ketika mencapai usia tertentu.

Seiring waktu dan penggunaan, baterai mengalami degradasi. Kondisi tersebut dapat mengurangi kapasitas energi yang mampu disimpan baterai.

Dampaknya dapat terlihat pada jarak tempuh kendaraan. Mobil yang ketika baru mampu menempuh jarak tertentu dengan kondisi baterai penuh dapat memiliki jarak tempuh lebih pendek setelah digunakan selama beberapa tahun.

Penelitian mengenai mekanisme penuaan baterai lithium-ion dalam penggunaan nyata menunjukkan bahwa degradasi melibatkan sejumlah proses elektrokimia.

Studi tersebut menemukan kehilangan lithium sebagai salah satu faktor dominan pada tahap awal. Setelah kendaraan menempuh sekitar 150.000 kilometer, kehilangan material aktif mulai menjadi faktor yang lebih dominan dalam proses degradasi.

Karena itu, baterai yang telah digunakan selama bertahun-tahun tidak otomatis membutuhkan penggantian.

Kondisi kesehatan baterai atau state of health (SoH) justru menjadi indikator penting. Nilai tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kapasitas baterai yang masih tersedia dibandingkan kondisi ketika baterai masih baru.

Suhu Memengaruhi Kondisi Baterai

Temperatur juga memainkan peran penting dalam menjaga daya tahan baterai.

Suhu yang terlalu tinggi dapat mempercepat proses degradasi. Karena itu, produsen kendaraan listrik mengembangkan sistem thermal management untuk menjaga temperatur baterai pada kondisi yang sesuai.

Penelitian mengenai degradasi baterai juga menunjukkan bahwa kehilangan kapasitas ketika kendaraan berada dalam kondisi diam atau tidak digunakan dapat memberikan kontribusi yang besar.

Dalam skenario penelitian tertentu, degradasi kalender diperkirakan menyumbang sekitar 62–83 persen dari total kehilangan kapasitas.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya sistem pengelolaan temperatur pada battery pack.

Bagi konsumen di negara beriklim tropis seperti Indonesia, sistem pendinginan baterai menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan ketika membandingkan mobil listrik.

Kebiasaan Pengisian Daya Berpengaruh

Cara pemilik mengisi daya juga berkaitan dengan kondisi baterai dalam jangka panjang.

Penggunaan fast charging secara intensif dapat memberikan beban termal dan elektrokimia yang berbeda dibandingkan pengisian dengan daya lebih rendah.

Namun, hal tersebut bukan berarti pemilik harus menghindari pengisian cepat sepenuhnya.

Penelitian terhadap sel baterai kendaraan listrik Volkswagen ID.3 menunjukkan bahwa sel yang diuji mampu mencapai siklus penggunaan yang sangat panjang dalam kondisi tertentu.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa pola penggunaan dan tingkat beban turut memengaruhi proses degradasi.

Karena itu, pemilik sebaiknya mengikuti rekomendasi produsen mengenai batas pengisian, penggunaan pengisian cepat, serta kondisi penyimpanan kendaraan.

Jangan Hanya Melihat Kapasitas Baterai

Calon pembeli mobil listrik sebaiknya tidak hanya melihat kapasitas baterai yang dinyatakan dalam kilowatt-hour (kWh).

Informasi mengenai jenis baterai, masa dan cakupan garansi, sistem pendinginan, layanan purnajual, serta potensi biaya penggantian komponen juga perlu diperhatikan.

Faktor tersebut menjadi semakin penting ketika konsumen memilih mobil listrik bekas.

Pada kendaraan bekas, pemeriksaan state of health (SoH) dapat memberikan gambaran mengenai kapasitas baterai yang tersisa.

Informasi tersebut membantu calon pembeli memahami kondisi kendaraan dan memperkirakan jarak tempuh aktual yang masih dapat dicapai.

Jadi, Berapa Lama Baterai Mobil Listrik Bertahan?

Pertanyaan mengenai berapa lama baterai mobil listrik bertahan tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk semua kendaraan.

Masa penggunaan baterai bergantung pada teknologi yang digunakan, temperatur, pola pengisian, jarak tempuh, kondisi penyimpanan, dan kebiasaan penggunaan.

Masa garansi sekitar delapan tahun pada banyak model memberikan gambaran mengenai periode perlindungan yang diberikan produsen. Namun, baterai tidak otomatis berhenti berfungsi setelah masa tersebut berakhir.

Kapasitas baterai biasanya mengalami penurunan secara bertahap. Karena itu, kondisi aktual baterai menjadi lebih penting daripada sekadar melihat usia kendaraan.

Bagi konsumen, memahami faktor-faktor tersebut dapat membantu mengambil keputusan secara lebih terukur. Hal ini berlaku baik ketika membeli mobil listrik baru maupun kendaraan bekas.

Dengan memperhatikan SoH, sistem pengelolaan temperatur, pola pengisian, garansi, serta layanan purnajual, konsumen dapat memperoleh gambaran yang lebih realistis mengenai kondisi dan potensi umur baterai mobil listrik. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *