Dolar Naik, Harga Pangan Mencekik! Menilik Efek Domino yang Bakal Sampai ke Dapur Warga Bandung

Korelasi.co – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal kenaikan dolar tidak akan memengaruhi masyarakat kecil tampaknya cukup menuai kontroversi. Namun, apakah benar demikian?

Obrolan fluktuasi nilai tukar mata uang asing sering kali dianggap sebagai urusan eksklusif para elite belaka, orang korporasi multinasional, atau importir di kota. Padahal, dalam skala mikro, fluktuasi itu punya efek domino yang terasa di keseharian masyarakat, siapa pun dan di mana pun.

Sepanjang pertengahan tahun, puncaknya hingga akhir Mei 2026 kemarin, mata uang dolar Amerika Serikat (AS) secara agresif melonjak di pasar internasional. Tentu saja kondisi ini membuat nilai tukar rupiah menurun drastis di kisaran Rp17.800-an per dolar AS.

Secara data historis beberapa pekan ke belakang, kondisi ekonomi domestik di tingkat daerah, khususnya Kota Bandung, sebenarnya sempat berada dalam fase yang relatif tenang.

Mengutip dokumen resmi Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Bandung mencatatkan angka inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 2,65% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di level 110,52.

Untuk diketahui, Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator ekonomi yang mengukur perubahan rata-rata harga dari sekelompok barang dan jasa (keranjang belanja) yang dikonsumsi oleh rumah tangga dari waktu ke waktu. IHK memiliki fungsi sebagai alat utama pemerintah untuk mengukur tingkat inflasi atau perubahan biaya hidup di masyarakat.

Bapak/Ibu rumah tangga di Bandung bahkan sempat menikmati deflasi bulanan (month-to-month) tipis sebesar 0,02% pada April, yang dipicu oleh penurunan harga musiman komoditas pertanian di pasar seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang-bawangan.

Namun, ketenangan angka statistik ini justru menjadi bahasan menarik atau menjadi anomali ketika berita kenaikan nilai tukar dolar menghantam di bulan berikutnya.

Laporan BPS tersebut pada hakikatnya sudah menjadi “alarm tersendiri” yang sangat jelas bagi komoditas makanan, minuman, dan tembakau yang menempati urutan teratas sebagai pemicu utama inflasi tahunan dengan kenaikan mencapai 3,97%. Komoditas utama harian seperti beras, daging ayam ras, minyak goreng, dan telur ayam ras menjadi motor utama yang sering dibeli oleh konsumen atau masyarakat.

Ketika pertahanan bahan pokok di bulan April sudah dibayangi oleh tren inflasi, hantaman lonjakan dolar di bulan Mei dipastikan akan memicu efek domino yang jauh lebih menekan di tingkat hilir.

Pertanyaan mendasar yang kerap menggelitik benak masyarakat lokal di Bandung tentunya tentang, “Mengapa beras yang ditanam di sawah daerah Jawa Barat, atau ayam yang diternakkan di wilayah Priangan, harganya harus ikut melambung saat dolar AS turut naik?”.

Fazrou Badiuz, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan salah satu teori ekonomi makro yang disebut imported inflation atau inflasi yang lahir akibat ketergantungan sektor produksi lokal terhadap komponen pasokan impor.

“Berdasarkan riset pasar yang saya amati mengenai rantai pasok di sejumlah pasar tradisional utama Kota Bandung seperti Pasar Kosambi dan Pasar Baru, pergerakan harga komoditas hewani dan pangan menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap ongkos produksi hulu,” jelasnya di halaman rektorat Unpad Jatinangor pada (12/06/2026).

Hal ini menjelaskan bahwa meskipun proses budidaya ayam broiler dilakukan di kemitraan peternak lokal Jawa Barat, industri peternakan ayam komersial sangat bergantung pada komponen pakan pabrikan. Kemudian, bahan baku inti pakan seperti bungkil kedelai (soybean meal) dan komponen suplemen asam amino esensial seluruhnya dikapalkan dari luar negeri dengan transaksi berbasis dolar AS.

Jika melihat riset Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, harga daging ayam ras eceran di Pasar Kosambi yang sempat menyumbang andil inflasi 0,19% di bulan April mulai merangkak naik ke batas atas margin pedagang akibat penyesuaian harga pakan ternak di tingkat pabrik imbas depresiasi rupiah.

Sementara itu, komoditas beras tercatat ikut andil dalam inflasi tahunan sebesar 0,13% pada April 2026. Artinya, dapat diindikasikan bahwa meskipun program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus digenjot, harga eceran beras premium sulit turun secara signifikan. Hal ini dikarenakan biaya input pertanian, terutama komponen pupuk kimia nonsubsidi dan obat-obatan pertanian, memiliki ketergantungan pada bahan aktif impor yang harganya terkoreksi naik begitu mata uang dolar menguat.

Terakhir, isu kenaikan dolar bukan hanya menjadi bahasan atau sesuatu yang hanya perlu dikhawatirkan oleh masyarakat elite di kota saja. Siapa pun dan di mana pun ia berada akan terkena dampak, sadar ataupun tidak. Oleh karena itu, apa yang kiranya perlu dipersiapkan oleh masyarakat, khususnya warga Kota Bandung?

Lonjakan nilai tukar dolar yang terjadi di akhir Mei biasanya tidak akan langsung menaikkan harga komoditas pangan di pasar keesokan harinya karena para pedagang eceran masih menghabiskan pasokan stok yang dibeli dengan modal lama.

Namun, tekanan inflasi yang sesungguhnya diproyeksikan baru akan benar-benar menghantam ruang belanja domestik dalam rentang dua hingga empat pekan ke depan saat pasokan stok baru dengan modal pasca-depresiasi rupiah mulai masuk ke pasar.

Oleh karenanya, kami tim redaksi menyarankan agar warga Kota Bandung menyusun kembali skala prioritas anggaran rumah tangga.

Mengurangi alokasi belanja sekunder yang memiliki komponen impor tinggi, seperti halnya gawai elektronik baru, suku cadang otomotif impor, atau produk kosmetik luar negeri, serta beralih mengoptimalkan konsumsi bahan pangan lokal alternatif menjadi opsi terbaik agar ketahanan isi finansial tetap terjaga secara mandiri di tengah ketidakpastian ekonomi makro saat ini.

Disclaimer: Beberapa data dalam artikel ini dikumpulkan dengan bantuan kecerdasan buatan dan telah diverifikasi oleh editor.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *