Sektor Properti Mulai Kehilangan Momentum, Harga Rumah Q1 2026 Hanya Tumbuh 0,62 Persen

Sektor Properti Mulai Kehilangan Momentum, Harga Rumah Q1 2026 0,62 Persen

KORELASI.CO — Sektor properti Indonesia mulai kehilangan momentum pertumbuhan pada awal 2026. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan harga properti residensial yang melambat, sementara penjualan rumah di pasar primer mengalami kontraksi cukup dalam.

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal I 2026 tumbuh 0,62% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2025 yang mencapai 0,83% yoy.

Secara kuartalan, pertumbuhan harga properti residensial pada periode tersebut tercatat hanya 0,04%. Kondisi ini menunjukkan kenaikan harga rumah di pasar primer berlangsung terbatas.

Penjualan Rumah Turun 25,67%

Perlambatan sektor properti Indonesia juga terlihat dari sisi penjualan. Bank Indonesia mencatat penjualan properti residensial di pasar primer pada kuartal I 2026 turun 25,67% secara tahunan.

Angka tersebut berbalik dari pertumbuhan penjualan sebesar 7,83% yoy pada kuartal IV 2025. Penjualan rumah tipe kecil dan besar masih belum kuat, sementara penjualan rumah tipe menengah tercatat meningkat.

Penurunan penjualan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap properti residensial belum sepenuhnya kuat pada awal tahun.

Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan harga juga dapat menjadi gambaran mengenai ruang pengembang dalam menaikkan harga jual. Ketika permintaan melemah, kenaikan harga cenderung lebih terbatas.

Properti Berpengaruh ke Banyak Sektor

Sektor properti memiliki keterkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi. Pergerakannya tidak hanya berdampak pada industri pembangunan dan konstruksi, tetapi juga berkaitan dengan perbankan, bahan bangunan hingga industri furnitur.

Karena itu, perlambatan pasar properti dapat memberikan dampak lebih luas terhadap aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan pembangunan dan transaksi hunian.

Meski demikian, data Bank Indonesia menunjukkan kondisi tersebut belum berarti seluruh pasar properti mengalami penurunan. Pada kuartal I 2026, penjualan rumah tipe menengah masih menunjukkan peningkatan, meskipun secara keseluruhan penjualan properti residensial mengalami kontraksi.

KPR Masih Jadi Pilihan Utama Pembeli

Dari sisi pembiayaan, dana internal pengembang masih menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial pada kuartal I 2026. Porsinya mencapai 80,66% dari total kebutuhan pembiayaan.

Sementara itu, dari sisi konsumen, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi skema pembelian yang paling banyak digunakan. Pangsa KPR mencapai 69,87% dari total skema pembelian rumah di pasar primer.

Data tersebut menunjukkan pembiayaan perbankan masih memiliki peran penting dalam menopang transaksi rumah di pasar primer, meskipun penjualan secara keseluruhan mengalami penurunan.

Dengan demikian, perkembangan sektor properti Indonesia pada awal 2026 memperlihatkan kombinasi antara kenaikan harga yang terbatas dan melemahnya penjualan. Kondisi pasar tetap perlu dilihat berdasarkan perkembangan penjualan, harga, serta pembiayaan pada periode berikutnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *