KORELASI.CO – Password menjadi salah satu lapisan penting dalam melindungi akun digital yang digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Mulai dari media sosial, layanan perbankan, marketplace, hingga layanan berbasis cloud membutuhkan kata sandi sebagai bagian dari proses pengamanan akun.
Namun, penggunaan password yang terlalu sederhana masih menjadi salah satu masalah keamanan. Kombinasi seperti 123456, password, qwerty, atau tanggal lahir lebih mudah ditebak sehingga dapat meningkatkan risiko akun diakses oleh pihak yang tidak berwenang.
Membuat password yang aman tidak cukup hanya dengan mencampurkan huruf dan angka. Kata sandi perlu dibuat panjang, sulit ditebak, tidak menggunakan informasi pribadi, serta sebaiknya berbeda untuk setiap akun.
Mengapa Password yang Aman Penting?
Password berfungsi sebagai salah satu lapisan awal untuk membatasi akses ke akun digital. Ketika kata sandi diketahui pihak lain, akun yang bersangkutan berpotensi digunakan tanpa izin.
Risiko yang dapat muncul akibat password yang mudah ditebak antara lain pencurian identitas, pengambilalihan akun media sosial, penyalahgunaan email, kehilangan akses akun, kebocoran data pribadi, hingga potensi kerugian finansial pada layanan yang berkaitan dengan transaksi.
Ancaman terhadap akun digital juga tidak hanya menyasar perusahaan atau organisasi. Pengguna internet secara individu juga perlu memperhatikan keamanan password yang digunakan pada berbagai layanan.
Seperti Apa Password yang Aman?
Password yang aman adalah kata sandi yang sulit ditebak dan tidak mudah dipecahkan menggunakan metode otomatis. Selain itu, setiap akun sebaiknya menggunakan password yang berbeda agar kebocoran pada satu akun tidak langsung berdampak pada akun lainnya.
Beberapa karakteristik password yang disebutkan dalam bahan antara lain:
- Memiliki panjang sekitar 12 hingga 16 karakter.
- Menggunakan kombinasi huruf besar dan huruf kecil.
- Memuat angka.
- Menggunakan simbol seperti @, #, %, & atau !.
- Tidak menggunakan informasi pribadi.
- Tidak memakai kata yang umum ditemukan dalam kamus.
- Panjang password juga menjadi salah satu faktor penting. Semakin panjang kata sandi, semakin banyak kombinasi yang perlu dicoba ketika seseorang berusaha menebaknya.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Membuat Password
Pengguna terkadang membuat password berdasarkan informasi yang mudah diingat. Namun, cara tersebut justru dapat membuat kata sandi lebih mudah ditebak.
Menggunakan Kombinasi yang Terlalu Sederhana
Beberapa contoh password yang sebaiknya dihindari adalah:
123456
123456789
password
qwerty
abc123
iloveyou
Kombinasi semacam ini memiliki pola yang sederhana sehingga tidak ideal digunakan sebagai kata sandi akun penting.
Memasukkan Nama Pribadi
Menggunakan nama sendiri sebagai bagian utama password juga perlu dihindari. Contohnya seperti:
yulia123
andi2026
budi12345
Nama seseorang dapat menjadi informasi yang mudah ditemukan, termasuk melalui media sosial, sehingga penggunaannya sebagai password dapat membuat kata sandi lebih mudah ditebak.
Menggunakan Tanggal Lahir
Tanggal lahir juga termasuk informasi pribadi yang sebaiknya tidak digunakan sebagai password.
Contoh seperti:
12081999
01012000
Informasi tersebut dapat diketahui pihak lain sehingga kurang tepat dijadikan dasar pembuatan kata sandi.
Memakai Password yang Sama di Semua Akun
Menggunakan satu password untuk banyak akun dapat meningkatkan risiko keamanan. Jika salah satu akun berhasil diakses oleh pihak lain, akun berbeda yang menggunakan kata sandi sama juga berpotensi ikut terancam.
Karena itu, setiap akun sebaiknya memiliki password yang unik.
Ciri Password yang Lebih Kuat
Selain menggunakan kombinasi karakter, ada beberapa aspek yang dapat diperhatikan ketika membuat password.
Buat Password dengan Karakter yang Beragam
Password dapat dibuat menggunakan perpaduan huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol.
Sebagai contoh:
Belajar#Komputer2026!
Kombinasi tersebut memiliki variasi karakter yang lebih banyak dibandingkan password yang hanya menggunakan huruf kecil.
Hindari Informasi yang Mudah Ditebak
Pengguna sebaiknya tidak memasukkan informasi yang mudah diketahui orang lain. Beberapa contohnya adalah nama kota, nama sekolah, nama pasangan, nama hewan peliharaan, atau klub sepak bola favorit.
Informasi seperti itu dapat tersedia di media sosial atau sumber lain yang dapat diakses orang lain.
Cara Membuat Password yang Mudah Diingat
Password yang kuat tidak harus selalu sulit diingat. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah membuat kata sandi berdasarkan kalimat yang memiliki makna bagi pemilik akun.
Mengubah Kalimat Menjadi Password
Misalnya, pengguna memiliki kalimat:
“Saya suka belajar komputer setiap hari.”
Kalimat tersebut kemudian dapat diubah menjadi:
SyS!BelajarKomputer#SetiapHari2026
Cara ini dapat menghasilkan password yang panjang sekaligus memiliki pola yang masih dapat diingat oleh pembuatnya.
Memanfaatkan Singkatan
Pengguna juga dapat membuat password dari singkatan sebuah kalimat.
Misalnya:
“Saya minum kopi setiap pagi jam enam.”
Dapat diubah menjadi:
SmKsPj6!2026
Kombinasi tersebut memiliki makna bagi pembuatnya, tetapi tidak langsung menunjukkan kalimat asli kepada orang lain.
Menggabungkan Kata yang Tidak Berkaitan
Cara lain adalah menggabungkan beberapa kata yang tidak memiliki hubungan langsung, misalnya:
Pelangi#Laptop27!Buku
Pola seperti ini dapat membuat password tidak terlalu mudah ditebak berdasarkan informasi pribadi.
Jangan Menyimpan Password Sembarangan
Keamanan password tidak hanya bergantung pada cara membuatnya, tetapi juga pada bagaimana kata sandi tersebut disimpan.
Menyimpan password pada kertas yang ditempel di dekat monitor, catatan tanpa pengamanan, file teks biasa di komputer, atau pesan yang tidak terlindungi dapat meningkatkan risiko informasi tersebut diketahui pihak lain.
Jika pengguna membutuhkan tempat untuk menyimpan banyak password, aplikasi pengelola password yang terpercaya dapat dipertimbangkan. Bahan menyebutkan bahwa layanan semacam ini dapat digunakan untuk menyimpan data dalam bentuk terenkripsi.
Gunakan Password Berbeda untuk Setiap Akun
Penggunaan password unik untuk setiap layanan dapat membatasi dampak apabila salah satu akun mengalami masalah keamanan.
Sebagai contoh, akun email, media sosial, dan marketplace sebaiknya tidak menggunakan kata sandi yang sama. Akun perbankan juga perlu menggunakan password yang berbeda dan tidak mengikuti pola yang mudah ditebak.
Dengan menerapkan password yang berbeda, kebocoran pada satu akun tidak secara otomatis memberikan akses ke akun lainnya.
Aktifkan Autentikasi Dua Faktor
Password yang kuat dapat menjadi langkah awal untuk menjaga keamanan akun. Perlindungan tersebut dapat ditambah dengan mengaktifkan autentikasi dua faktor atau Two-Factor Authentication (2FA).
Fitur ini menambahkan proses verifikasi setelah pengguna memasukkan password. Dengan demikian, proses masuk ke akun tidak hanya mengandalkan kata sandi, tetapi juga membutuhkan verifikasi tambahan untuk memastikan identitas pengguna.
Dalam bahan disebutkan bahwa metode verifikasi kedua dapat berupa kode OTP melalui aplikasi autentikator atau SMS, sidik jari, pemindaian wajah, hingga security key yang terhubung ke perangkat.
Layanan digital seperti email, media sosial, perbankan, dan penyimpanan cloud juga disebut telah menyediakan fitur 2FA. Karena itu, pengguna disarankan mengaktifkan fitur tersebut pada akun-akun penting.
Jangan Membagikan Password kepada Orang Lain
Password merupakan informasi pribadi yang digunakan untuk mengakses berbagai akun. Karena itu, kata sandi sebaiknya tidak diberikan kepada orang lain, termasuk teman, rekan kerja, maupun anggota keluarga, kecuali dalam kondisi yang benar-benar diperlukan dengan tetap memperhatikan keamanan.
Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap pihak yang mengaku sebagai petugas layanan pelanggan dan meminta password melalui telepon, email, pesan singkat, atau media sosial. Cara tersebut dapat digunakan dalam praktik rekayasa sosial atau social engineering untuk memperoleh informasi penting.
Bahan menyebutkan bahwa penyedia layanan terpercaya pada umumnya tidak akan meminta password pengguna melalui saluran tersebut. Jika menerima permintaan semacam itu, pengguna perlu melakukan verifikasi melalui kanal resmi layanan terkait.
Menjaga kerahasiaan password, menggunakan kata sandi yang berbeda, serta mengaktifkan autentikasi dua faktor dapat menjadi bagian dari langkah untuk meningkatkan perlindungan akun digital. (Red)



















