6 Pengeluaran Sehari-hari yang Diam-diam Menguras Keuangan dalam Jangka Panjang

Waspada, Kebiasaan Belanja Ini Bisa Membuat Pengeluaran Membengkak

KORELASI.CO-Pengeluaran sehari-hari yang terlihat kecil dapat menjadi beban keuangan jika dilakukan terus-menerus. Cicilan kendaraan, pesan makanan melalui aplikasi, hingga langganan layanan digital merupakan beberapa contoh pengeluaran yang nominalnya mungkin terasa biasa, tetapi dapat terakumulasi menjadi jumlah besar dalam jangka panjang.

Dampaknya akan semakin terlihat jika uang yang digunakan untuk pengeluaran tersebut dibandingkan dengan potensi dana yang dapat dialihkan ke tabungan atau investasi. Sebagai ilustrasi, sejumlah pengeluaran dihitung dengan asumsi dana tersebut diinvestasikan dan menghasilkan imbal hasil rata-rata 7 persen per tahun selama 30 tahun.

Namun, angka tersebut bukan jaminan keuntungan investasi. Pasar investasi tidak memberikan hasil 7 persen secara konsisten setiap tahun sehingga perhitungan tersebut hanya digunakan untuk menggambarkan bagaimana kebiasaan mengeluarkan uang dapat memengaruhi kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Berikut sejumlah pengeluaran yang perlu diperhatikan.

1. Cicilan kendaraan yang terus berulang

Cicilan kendaraan dapat menjadi pengeluaran rutin yang berlangsung selama bertahun-tahun. Persoalannya bukan hanya pada satu kali pembelian kendaraan, tetapi ketika seseorang kembali mengambil cicilan baru setelah cicilan sebelumnya selesai.

Sebagai ilustrasi, pengeluaran Rp10 juta per bulan untuk cicilan kendaraan selama 30 tahun akan mencapai sekitar Rp3,6 miliar.

Jika jumlah tersebut dialihkan untuk investasi dengan asumsi imbal hasil rata-rata 7 persen per tahun, nilainya secara ilustratif dapat mencapai sekitar Rp12,2 miliar setelah 30 tahun.

Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan kendaraan yang masih layak digunakan lebih lama dapat memberikan kesempatan untuk mengalokasikan sebagian dana ke kebutuhan finansial lainnya.

2. Terlalu cepat pindah ke rumah yang lebih besar

Memiliki rumah yang lebih besar dapat menjadi kebutuhan ketika kondisi keluarga berubah. Namun, terlalu sering berpindah rumah juga dapat menambah berbagai biaya.

Setiap transaksi properti dapat disertai biaya seperti komisi agen, biaya transaksi, jasa pindahan, hingga kebutuhan membeli furnitur baru. Dalam konteks pasar yang menjadi sumber artikel, komisi agen properti secara tradisional disebut berada di kisaran 5-6 persen dari harga jual.

Pembelian rumah baru juga dapat membuat seseorang kembali mengambil kredit pemilikan rumah. Dengan demikian, jadwal pembayaran pinjaman dapat kembali dimulai dari awal.

Karena itu, keputusan untuk pindah rumah perlu mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya serta berbagai biaya yang muncul di luar harga rumah.

3. Terlalu sering memesan makanan secara online

Layanan pesan-antar makanan memberikan kemudahan karena konsumen tidak perlu datang langsung ke restoran. Namun, biaya yang dikeluarkan tidak selalu berhenti pada harga makanan.

Dalam satu transaksi, konsumen dapat membayar biaya layanan, ongkos pengiriman, serta kemungkinan harga menu yang berbeda dibandingkan pembelian secara langsung. Tip juga dapat menambah total pembayaran.

Jika pemesanan dilakukan berkali-kali dalam sebulan, selisih biaya tersebut dapat menjadi pengeluaran yang cukup besar ketika diakumulasikan.

4. Mengabaikan biaya pengelolaan investasi

Biaya pengelolaan investasi mungkin terlihat kecil ketika dinyatakan dalam persentase. Salah satu contoh yang dibahas adalah biaya sebesar 1 persen.

Meskipun terlihat rendah, biaya tersebut dapat dikenakan terhadap nilai portofolio setiap tahun. Dana yang digunakan untuk membayar biaya tersebut juga tidak lagi berada di dalam investasi sehingga tidak ikut berkembang.

Karena itu, investor perlu memperhatikan struktur biaya ketika memilih produk investasi, bukan hanya melihat potensi imbal hasilnya.

5. Membayar langganan yang sudah jarang digunakan

Langganan layanan digital sering kali menggunakan sistem pembayaran otomatis. Kondisi tersebut membuat pengguna dapat terus membayar meskipun sudah jarang menggunakan layanan.

Contohnya antara lain layanan streaming, keanggotaan pusat kebugaran, penyimpanan cloud, aplikasi meditasi, hingga situs berita.

Masing-masing biaya mungkin terlihat kecil. Namun, jika terdapat beberapa layanan yang aktif sekaligus dan semuanya dibayar setiap bulan, total pengeluaran dapat bertambah tanpa terlalu disadari.

Melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap daftar langganan dapat membantu mengetahui layanan mana yang masih benar-benar dibutuhkan.

6. Memilih premi asuransi lebih mahal demi deductible yang lebih rendah

Deductible merupakan bagian biaya yang perlu ditanggung pemegang polis sebelum perusahaan asuransi membayar klaim.

Memilih deductible yang lebih rendah memang dapat mengurangi jumlah yang perlu dibayarkan pemegang polis ketika terjadi klaim. Namun, konsekuensinya dapat berupa premi yang lebih tinggi.

Karena itu, pemegang polis perlu mempertimbangkan keseimbangan antara besarnya premi rutin dan biaya yang harus ditanggung ketika mengajukan klaim.

Perhatikan pengeluaran yang berulang

Tidak semua pengeluaran di atas harus dihilangkan. Cicilan kendaraan, rumah, makanan, investasi, langganan, maupun asuransi dapat menjadi bagian dari kebutuhan seseorang.

Hal yang perlu diperhatikan adalah pola pengeluaran dan manfaat yang diperoleh dari uang yang dikeluarkan. Pengeluaran yang dilakukan berulang kali, terutama untuk sesuatu yang sudah jarang digunakan atau sebenarnya masih dapat ditunda, berpotensi mengurangi ruang untuk menabung dan memenuhi tujuan keuangan jangka panjang.

Perhitungan dengan asumsi investasi 7 persen selama 30 tahun juga perlu dipahami sebagai ilustrasi, bukan proyeksi hasil investasi yang pasti.( Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *