Site icon Korelasi.co

Kacamata Pintar Berbasis AI Makin Canggih, Akankah Gantikan Smartphone?

Kacamata Pintar AI Makin Populer pada 2026, Apakah Smartphone Akan Tergeser?

KORELASI.CO – Kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin menarik perhatian industri teknologi pada 2026. Perangkat ini menawarkan cara baru untuk mengakses informasi, mengambil foto, menerjemahkan percakapan, hingga meminta bantuan AI tanpa harus terus-menerus memegang smartphone.

Perkembangan tersebut mengubah fungsi kacamata pintar atau smart glasses. Jika sebelumnya perangkat ini lebih dikenal sebagai aksesori dengan kamera dan fitur audio, kini produsen mulai mengintegrasikan AI untuk membantu pengguna memahami lingkungan di sekitarnya.

Data International Data Corporation (IDC) menunjukkan pengiriman kacamata pintar tanpa layar mencapai sekitar 2,25 juta unit pada kuartal I 2026. Angka tersebut tumbuh 167 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

IDC juga memproyeksikan pengiriman kategori tersebut mencapai sekitar 13,6 juta unit sepanjang 2026. Data ini memperlihatkan meningkatnya minat pasar terhadap perangkat wearable yang menggabungkan desain kacamata sehari-hari dengan teknologi AI. Sumber: IDC.

AI Mengubah Cara Pengguna Berinteraksi dengan Teknologi

Kehadiran AI menjadi salah satu faktor yang mendorong perkembangan smart glasses. Pengguna tidak hanya dapat mengambil gambar atau mendengarkan musik, tetapi juga mengajukan pertanyaan, meminta petunjuk arah, dan memperoleh informasi berdasarkan objek yang mereka lihat.

Teknologi ini memungkinkan pengguna menjalankan sejumlah aktivitas tanpa perlu mengeluarkan smartphone dari saku. Mereka cukup menggunakan perintah suara atau kontrol pada bingkai kacamata untuk mengakses fitur tertentu.

Meta menjadi salah satu perusahaan yang aktif mengembangkan teknologi tersebut. Melalui lini kacamata AI-nya, perusahaan ini menawarkan fitur fotografi, perekaman video, panggilan, pesan, serta bantuan AI untuk kebutuhan sehari-hari.

Pada 23 Juni 2026, Meta memperkenalkan lini kacamata pintar bermerek Meta dengan harga awal US$299. Produk tersebut menambah pilihan perangkat AI wearable bagi konsumen yang menginginkan akses ke asisten digital melalui kacamata. Sumber: Reuters.

Namun, kemampuan setiap produk berbeda. Pengguna perlu memeriksa dukungan bahasa, kompatibilitas smartphone, ketersediaan fitur di Indonesia, serta kebutuhan koneksi internet sebelum membeli perangkat sejenis.

Google dan Samsung Ikut Mendorong Perkembangan Smart Glasses

Persaingan di pasar kacamata pintar juga melibatkan Google dan Samsung. Kedua perusahaan mengembangkan konsep intelligent eyewear yang menghubungkan kacamata dengan asisten AI dan ekosistem perangkat mobile.

Pada Google I/O 2026, Google memperkenalkan perkembangan Android XR yang mengintegrasikan Gemini ke dalam kacamata pintar. Perusahaan tersebut menyiapkan dua pendekatan, yaitu kacamata berbasis audio dan model yang dapat menampilkan informasi secara visual.

Google merancang perangkat ini untuk membantu pengguna memperoleh petunjuk arah, mengirim pesan, mengambil foto, serta menerjemahkan percakapan. Pengguna dapat meminta bantuan Gemini tanpa harus terus melihat layar ponsel. Informasi resmi Google.

Samsung turut memperkenalkan intelligent eyewear pada ajang Galaxy Unpacked di London, 22 Juli 2026. Samsung mengembangkan konsep tersebut bersama merek kacamata Gentle Monster dan Warby Parker.

Melalui pendekatan ini, Samsung ingin memperluas pengalaman ekosistem Galaxy dari smartphone ke perangkat yang pengguna kenakan sehari-hari. Kacamata pintar dapat menjadi antarmuka tambahan untuk mengakses layanan digital secara lebih praktis. Sumber: Samsung Newsroom Indonesia.

Meski demikian, pengenalan produk dan pengembangan fitur tidak selalu berarti seluruh perangkat sudah tersedia secara komersial. Konsumen perlu membedakan antara produk yang baru diperkenalkan, perangkat yang memasuki tahap peluncuran, dan produk yang benar-benar dapat dibeli di pasar Indonesia.

Smartphone Belum Tergantikan oleh Kacamata Pintar

Pertumbuhan smart glasses belum menunjukkan bahwa smartphone akan segera kehilangan perannya. Sebagian besar perangkat kacamata pintar masih mengandalkan ponsel untuk konektivitas, pengaturan perangkat, pemindahan foto, dan akses ke sejumlah fitur.

Smartphone juga tetap unggul untuk aktivitas yang membutuhkan layar besar, pengetikan panjang, pengeditan dokumen, pengelolaan file, serta penggunaan aplikasi secara intensif.

Sebaliknya, kacamata pintar menawarkan kemudahan untuk aktivitas yang membutuhkan akses cepat. Pengguna dapat mendengarkan petunjuk arah sambil berjalan, meminta terjemahan ketika berbicara dengan orang lain, atau mengambil gambar tanpa harus memegang kamera secara langsung.

Kedua perangkat tersebut berpotensi menjalankan fungsi yang saling melengkapi. Smartphone tetap menangani pekerjaan utama, sedangkan kacamata pintar menyediakan akses cepat ke informasi dan AI.

Perubahan ini juga membuka kemungkinan baru dalam penggunaan teknologi. Pengguna tidak lagi harus selalu berinteraksi melalui layar sentuh karena suara, kamera, dan konteks lingkungan dapat menjadi bagian dari antarmuka digital.

Privasi Menjadi Tantangan Besar Kacamata AI

Di balik kemudahannya, kacamata pintar juga menimbulkan pertanyaan tentang privasi. Kamera yang terpasang pada bingkai memungkinkan pengguna mengambil foto atau merekam video ketika beraktivitas di ruang publik.

Orang di sekitar pengguna mungkin tidak selalu menyadari bahwa perangkat sedang merekam. Kondisi tersebut dapat memicu persoalan persetujuan, penyebaran gambar tanpa izin, dan perlindungan data pribadi.

Pada akhir Agustus 2026, Meta mengumumkan pembaruan untuk menghentikan perekaman apabila lampu indikator kamera tertutup ketika proses perekaman berlangsung. Langkah ini bertujuan mencegah pengguna menyiasati indikator yang memberi tahu orang lain bahwa kamera sedang aktif. Laporan Ars Technica.

Meski produsen mengembangkan fitur pengamanan, pengguna tetap perlu mempertimbangkan etika ketika merekam orang lain. Mereka juga harus memahami bagaimana perangkat menyimpan, memproses, dan membagikan data yang dikumpulkan.

Kepercayaan publik akan menjadi faktor penting bagi perkembangan teknologi ini. Tanpa perlindungan privasi yang memadai, kemudahan yang ditawarkan kacamata pintar justru dapat memicu penolakan dari masyarakat.

Masa Depan Teknologi: Smartphone dan AI Wearable Berjalan Bersama

Kacamata pintar berbasis AI berpotensi mengubah cara manusia berinteraksi dengan perangkat digital. Namun, perubahan tersebut tidak harus berujung pada hilangnya smartphone.

Smartphone masih menawarkan kemampuan komputasi, layar, dan akses aplikasi yang sulit digantikan oleh perangkat berukuran kecil. Sementara itu, smart glasses memberikan kemudahan untuk memperoleh informasi ketika pengguna ingin tetap fokus pada aktivitasnya.

Ke depan, perkembangan teknologi wearable akan bergantung pada kemampuan produsen meningkatkan akurasi AI, daya tahan baterai, kenyamanan pemakaian, keamanan data, dan harga perangkat.

Ketersediaan fitur dalam bahasa Indonesia serta dukungan layanan lokal juga akan menentukan seberapa mudah konsumen Indonesia mengadopsi teknologi ini.

Dengan demikian, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya apakah kacamata pintar akan menggantikan smartphone. Hal yang lebih penting ialah bagaimana kedua perangkat tersebut akan berbagi peran dalam kehidupan sehari-hari, seiring AI semakin terintegrasi ke dalam teknologi yang digunakan manusia. (Red)

Catatan redaksi: Artikel ini bersifat edukatif, pembaca bisa melihat

Exit mobile version