Site icon Korelasi.co

AI dan Masa Depan Pekerjaan: Upah, Keterampilan hingga Hak Pekerja

KORELASI.CO – AI dan masa depan pekerjaan menjadi perhatian seiring perkembangan kecerdasan buatan yang mengubah cara manusia bekerja. Dampaknya tidak hanya menyangkut kemungkinan berkurangnya pekerjaan, tetapi juga memengaruhi upah, kondisi kerja, hak pekerja, kesenjangan digital, dan peluang baru.

Sher Verick menilai pembahasan tentang AI dan masa depan pekerjaan selama ini terlalu sering berfokus pada potensi hilangnya lapangan kerja. Menurutnya, perhatian juga perlu diarahkan pada perubahan kualitas, karakter, dan cara pekerja menjalankan tugas.

AI dan Masa Depan Pekerjaan Mengubah Cara Kerja

Menurut Verick, perkembangan teknologi tidak otomatis menghilangkan sebagian besar pekerjaan. AI lebih banyak memengaruhi tugas tertentu dalam sebuah pekerjaan.

Karena itu, perubahan akibat AI dan masa depan pekerjaan perlu dilihat secara lebih luas. Teknologi dapat mengubah tugas pekerja tanpa menghapus seluruh jenis pekerjaan.

Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi tingkat upah. Kondisi itu dapat terjadi ketika permintaan terhadap suatu jenis pekerjaan ikut berubah.

Selain upah, penggunaan AI di tempat kerja dapat mengubah kondisi kerja. Teknologi juga dapat memengaruhi cara pekerja menjalankan tugas sehari-hari.

Salah satu contohnya adalah sistem manajemen algoritmik. Perusahaan semakin menggunakan teknologi tersebut untuk proses perekrutan, pembagian tugas, pemantauan, dan evaluasi pekerja.

Verick menyebut teknologi tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas. Namun, penerapannya juga dapat memunculkan persoalan mengenai otonomi pekerja dan perubahan karakter pekerjaan.

Karena itu, perusahaan perlu menjaga transparansi saat menggunakan alat berbasis algoritma. Dialog antara pekerja dan perusahaan juga penting agar kedua pihak dapat memahami dampak penerapan teknologi.

AI dan Masa Depan Pekerjaan di Negara Berkembang

Digitalisasi dan AI saat ini memberikan dampak yang lebih terbatas di sejumlah negara berkembang dibandingkan negara maju. Kesenjangan digital dan perbedaan struktur ekonomi menjadi beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Namun, kondisi itu bukan berarti negara berkembang terbebas dari dampak AI. Keterbatasan akses teknologi justru dapat mengurangi kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan peluang dari perkembangan AI.

Transformasi digital terus berlangsung di berbagai wilayah. Penggunaan sistem pembayaran digital seperti M-PESA di Afrika Timur menjadi salah satu contoh perkembangan tersebut.

Pertumbuhan platform tenaga kerja digital juga menunjukkan perubahan dalam dunia kerja. Teknologi menghadirkan peluang baru, tetapi sekaligus membawa tantangan bagi pekerja dan pembuat kebijakan.

Perkembangan AI berlangsung dengan cepat. Karena itu, kondisi saat ini tidak dapat menjadi gambaran permanen mengenai dampaknya terhadap dunia kerja.

Menurut Verick, masyarakat perlu terus memantau perubahan tersebut. Kemampuan dan penggunaan teknologi dapat berkembang dalam beberapa bulan maupun tahun mendatang.

AI dan Masa Depan Pekerjaan bagi Perempuan dan Kaum Muda

Perkembangan teknologi tidak memberikan dampak yang sama kepada seluruh kelompok pekerja. Pengalaman perubahan teknologi selama berabad-abad menunjukkan bahwa sebagian kelompok dapat memperoleh manfaat, sedangkan kelompok lain menghadapi risiko saat pasar tenaga kerja beradaptasi.

Perempuan menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian. Tingginya keterwakilan perempuan pada pekerjaan yang lebih rentan terhadap otomatisasi menjadi salah satu faktornya.

Pekerjaan administratif, misalnya, termasuk jenis pekerjaan yang dapat menghadapi paparan otomatisasi berbasis AI.

Kaum muda juga menghadapi tantangan dalam perkembangan AI generatif. Bahan yang tersedia menyebut adanya bukti awal mengenai dampak negatif yang lebih besar terhadap kelompok muda di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.

Namun, teknologi digital juga membuka akses terhadap pembelajaran dan kesempatan kerja baru. Salah satu contoh muncul melalui dukungan ILO bagi kaum muda di wilayah terpencil Kenya.

Program tersebut memberikan pelatihan keterampilan digital dan pendampingan. Tujuannya membantu kaum muda mengakses peluang kerja secara daring.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AI dan masa depan pekerjaan tidak hanya menghadirkan risiko. Teknologi juga dapat menciptakan kesempatan ketika masyarakat memperoleh akses dan keterampilan yang memadai.

Kesenjangan Digital Memengaruhi Akses terhadap AI

Kesenjangan digital terjadi antarnegara maupun di dalam suatu negara. Perbedaan akses terhadap infrastruktur dan keterampilan digital dapat menentukan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi.

Data dalam bahan menunjukkan bahwa pada 2024, proporsi penduduk pengguna internet mencapai 93 persen di negara berpenghasilan tinggi. Angka tersebut jauh lebih rendah di negara berpenghasilan rendah, yaitu 27 persen.

Kesenjangan pemanfaatan AI juga terlihat di kawasan seperti Uni Eropa. Perusahaan besar dan negara dengan tingkat pendapatan lebih tinggi mencatat adopsi AI yang lebih besar.

Di dalam suatu negara, masyarakat di wilayah pedesaan juga dapat menghadapi keterbatasan akses internet broadband. Kesempatan mengikuti program pelatihan digital juga dapat berbeda antarwilayah.

Karena itu, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur digital dan meningkatkan keterampilan masyarakat. Langkah tersebut dapat membantu memperluas akses terhadap teknologi baru.

Negara berkembang juga membutuhkan dukungan untuk membangun ekosistem AI sesuai kebutuhan masing-masing. Pengembangan teknologi dalam berbagai bahasa dan penyesuaian dengan konteks lokal menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Kebijakan Ketenagakerjaan Perlu Mengikuti Perkembangan AI

Dari perspektif Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Agenda Kerja Layak dapat menjadi salah satu acuan dalam melihat manfaat dan tantangan penerapan AI.

Pemerintah dapat menggunakan kebijakan dan regulasi yang sudah tersedia untuk merespons perkembangan AI. Jika diperlukan, pemerintah juga dapat mengembangkan kerangka tata kelola baru.

Kebijakan tersebut perlu mengacu pada standar ketenagakerjaan internasional dan dialog sosial.

Menurut Verick, terdapat tiga area utama yang perlu mendapat perhatian.

1. Perlindungan Pekerja

Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mengantisipasi dampak negatif AI. Upaya tersebut dapat mencakup penempatan kembali tenaga kerja, perlindungan sosial, dan kebijakan pasar tenaga kerja aktif.

Layanan ketenagakerjaan juga memiliki peran dalam membantu pekerja menghadapi perubahan akibat teknologi.

2. Peningkatan Keterampilan Digital

Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memperkuat keterampilan digital pekerja. Kemampuan tersebut dapat membantu masyarakat mengakses dan menggunakan teknologi baru.

Usaha kecil juga membutuhkan dukungan untuk mengatasi kesenjangan digital. Dukungan tersebut dapat membantu pelaku usaha memanfaatkan peluang yang muncul dari perkembangan teknologi.

3. Perlindungan Hak Pekerja

Mekanisme tata kelola perlu melindungi hak pekerja dalam penggunaan teknologi berbasis AI. Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah penggunaan algoritma yang dapat menghasilkan perlakuan diskriminatif.

Transparansi dan dialog antara pekerja serta perusahaan menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan tersebut.

AI dan Masa Depan Pekerjaan Perlu Dilihat Secara Menyeluruh

Pembahasan mengenai AI dan masa depan pekerjaan tidak cukup hanya melihat jumlah pekerjaan yang mungkin terdampak. Perubahan upah, kondisi kerja, hak pekerja, akses teknologi, dan peluang baru juga menjadi bagian dari transformasi tersebut.

Verick menekankan pentingnya melihat dampak AI terhadap kualitas dan kuantitas pekerjaan secara bersamaan. Menurutnya, pembuat kebijakan perlu menggunakan bukti terbaru ketika merespons perkembangan teknologi.

Dialog sosial juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Pemerintah, pekerja, perusahaan, dan pemangku kepentingan lain perlu memahami perubahan yang muncul akibat penerapan AI.

Dengan pendekatan tersebut, perkembangan AI dapat dibahas secara lebih menyeluruh. Perhatian tidak hanya tertuju pada kemungkinan perubahan jumlah pekerjaan, tetapi juga pada kualitas pekerjaan dan kemampuan pekerja beradaptasi.

Pada akhirnya, AI dan masa depan pekerjaan akan terus berkembang seiring perubahan teknologi. Karena itu, kebijakan ketenagakerjaan, keterampilan digital, perlindungan pekerja, dan akses teknologi perlu terus mengikuti perubahan yang terjadi. (Red)

Exit mobile version