KORELASI.CO – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus mengubah cara manusia menyelesaikan pekerjaan. Jika sebelumnya AI banyak membantu menjawab pertanyaan, menulis, dan merangkum dokumen, kini teknologi tersebut mampu menjalankan rangkaian tugas yang lebih kompleks.
Teknologi ini dikenal sebagai Agentic AI atau agen kecerdasan buatan. Sistem tersebut tidak sekadar menjawab instruksi pengguna. Agen AI juga dapat menyusun rencana, menggunakan berbagai alat, mengevaluasi hasil, dan mengambil langkah lanjutan untuk mencapai tujuan tertentu.
Kemampuan tersebut membuka peluang pemanfaatan AI dalam berbagai bidang, termasuk pengembangan perangkat lunak. Meski demikian, pengguna perlu memahami cara kerja, manfaat, dan risiko teknologi ini sebelum menerapkannya.
Mengenal Cara Kerja Agentic AI
AI konvensional umumnya merespons perintah pengguna melalui prompt. Sebagai contoh, seseorang dapat meminta AI menyusun draf email atau merangkum dokumen. Untuk mengerjakan tugas berikutnya, pengguna biasanya memberikan instruksi tambahan.
Sebaliknya, Agentic AI memungkinkan pengguna menetapkan tujuan tanpa harus mengarahkan setiap tahapan pekerjaan. Sistem kemudian menyusun langkah yang diperlukan sesuai kemampuan dan akses yang tersedia.
Sebagai contoh, pengguna dapat meminta sistem membuat program kalkulator sederhana dan menguji fungsinya. Agen tersebut dapat menyusun kode, menjalankan pengujian, menganalisis kesalahan, lalu memperbaiki kode jika menemukan masalah.
Setelah itu, sistem dapat kembali menguji program untuk memeriksa hasil perbaikannya. Proses tersebut menggambarkan karakteristik agentic, yaitu perencanaan, penggunaan alat, pelaksanaan tindakan, dan evaluasi hasil.
Namun, tingkat kemandirian setiap sistem berbeda. Kemampuannya bergantung pada model AI, perangkat yang terhubung, instruksi pengguna, serta batas akses yang diberikan.
Berbagai Fungsi Agentic AI
Teknologi ini tidak hanya mendukung percakapan berbasis teks. Dengan integrasi yang sesuai, sistem juga dapat menggunakan perangkat lunak dan berbagai alat untuk menyelesaikan pekerjaan bertahap.
1. Membantu Otomatisasi Pekerjaan Kompleks
Dalam pengembangan perangkat lunak, agen AI dapat membantu menganalisis kode, mengusulkan perubahan, dan menjalankan pengujian. Sistem juga dapat menelusuri penyebab kesalahan sebelum mencoba memperbaikinya.
Kemampuan tersebut membantu pengembang menangani pekerjaan teknis yang memerlukan beberapa tahapan. Meski begitu, pengembang tetap perlu memeriksa perubahan kode untuk memastikan keamanan dan kualitas program.
2. Menggunakan Aplikasi dan Berbagai Alat
Salah satu kemampuan penting teknologi ini adalah berinteraksi dengan alat eksternal jika pengguna memberikan akses yang sesuai.
Misalnya, sistem dapat menggunakan peramban untuk mencari informasi, membaca data dari basis data, atau menjalankan fungsi tertentu dalam aplikasi. Dengan kemampuan tersebut, AI tidak hanya menghasilkan teks, tetapi juga dapat melakukan tindakan sesuai instruksi.
Akan tetapi, setiap integrasi memerlukan pengaturan hak akses yang tepat. Sistem sebaiknya hanya memperoleh izin yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya.
3. Menyelesaikan Masalah secara Bertahap
Agen AI juga dapat mengevaluasi hasil dari setiap langkah. Ketika sebuah tindakan gagal, sistem dapat menganalisis penyebabnya dan mencoba pendekatan lain jika instruksi serta alat yang tersedia memungkinkan.
Dalam pemrograman, misalnya, sistem dapat menjalankan kode dan menemukan kesalahan melalui hasil pengujian. Selanjutnya, sistem dapat mengusulkan perbaikan dan menguji ulang program tersebut.
Meski demikian, proses berulang tidak selalu menghasilkan jawaban yang benar. Karena itu, pengguna tetap perlu memeriksa hasilnya, terutama ketika tugas menyangkut keamanan, keuangan, atau keputusan penting lainnya.
Risiko dan Tantangan Penggunaan Agen AI
Kemampuan menjalankan tindakan secara mandiri juga menghadirkan tantangan. Salah satu perhatian utama berkaitan dengan keamanan data dan pengaturan kewenangan.
Ketika organisasi menghubungkan sistem AI dengan peramban, basis data, atau aplikasi internal, pengelola harus menentukan batas akses secara jelas. Izin yang terlalu luas dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan data atau tindakan yang tidak sesuai tujuan.
Selain itu, sistem AI dapat menghasilkan informasi keliru dan mengambil langkah yang tidak tepat. Pengguna tidak boleh menganggap kemampuan otomatisasi sebagai jaminan akurasi.
Untuk mengurangi risiko tersebut, organisasi dapat menerapkan pendekatan Human-in-the-Loop. Melalui pendekatan ini, manusia tetap mengawasi proses dan memberikan persetujuan untuk tindakan tertentu.
Sebagai contoh, sistem dapat menyusun rekomendasi atau menyiapkan transaksi, tetapi manusia tetap memeriksa dan menyetujui tindakan sebelum sistem mengeksekusinya. Pengawasan seperti ini penting untuk aktivitas yang memiliki konsekuensi besar.
Apakah Agentic AI Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia?
Perkembangan teknologi ini memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap dunia kerja. Namun, penilaian tentang seberapa besar AI akan menggantikan pekerja memerlukan data ketenagakerjaan, penelitian, dan analisis dari sumber tepercaya.
Tanpa bukti tersebut, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa teknologi ini akan menggantikan pekerjaan manusia secara luas.
Meski demikian, kemampuan otomatisasi dapat membantu menyelesaikan sejumlah tugas yang sebelumnya memerlukan instruksi berulang. Dampaknya terhadap suatu pekerjaan akan bergantung pada jenis tugas, penerapan teknologi, dan kebutuhan masing-masing organisasi.
Dalam situasi tersebut, manusia tetap berperan dalam menetapkan tujuan, memberikan konteks, menilai hasil, dan menangani keputusan yang membutuhkan pertimbangan. Oleh sebab itu, penerapan AI lebih tepat dinilai berdasarkan tugas yang dapat dibantu serta batas kemampuan sistem.
Pentingnya Memahami Perkembangan AI
Agentic AI menandai perkembangan kecerdasan buatan menuju sistem yang dapat menjalankan sejumlah tindakan secara berurutan untuk mencapai tujuan tertentu.
Pemahaman mengenai teknologi ini bermanfaat bagi mahasiswa, pengembang perangkat lunak, dan profesional teknologi informasi. Mereka dapat mempelajari cara merancang alur kerja, mengintegrasikan alat, mengatur hak akses, serta mengevaluasi hasil yang dihasilkan sistem.
Selain kemampuan teknis, pengguna juga perlu memahami keamanan data dan tanggung jawab dalam penggunaan AI. Organisasi harus memastikan setiap penerapan teknologi memiliki tujuan yang jelas, batas kewenangan yang tepat, dan mekanisme pengawasan yang memadai.
Pada akhirnya, teknologi ini menawarkan peluang untuk membantu manusia menyelesaikan pekerjaan secara lebih terstruktur. Namun, keberhasilan penerapannya tetap bergantung pada kualitas sistem, ketepatan instruksi, keamanan integrasi, dan pengawasan manusia. (Red)

