KORELASI.CO – Bisnis properti pergudangan mulai menjadi salah satu segmen yang diperhatikan pengembang di tengah pertumbuhan investasi nasional. Kebutuhan ruang untuk penyimpanan barang, distribusi, dan rantai pasok mendorong pentingnya pengembangan kawasan bisnis yang didukung lokasi strategis serta konektivitas transportasi.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun pada semester I 2026. Nilai tersebut meningkat 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sektor transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran turut menjadi bagian dari sektor yang menopang investasi nasional. Namun, data dalam bahan berita tidak merinci nilai investasi khusus untuk bisnis pergudangan.
Perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan kebutuhan ruang usaha sebagai bagian dari pasar properti. Selain menyediakan bangunan, pengembangan kawasan pergudangan juga perlu mempertimbangkan akses distribusi, konektivitas, serta fleksibilitas ruang sesuai kebutuhan operasional perusahaan.
Konektivitas Jadi Pertimbangan Pengembangan Gudang
Akses menuju jalan tol, bandara, dan pelabuhan menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan dalam pengembangan kawasan bisnis. Konektivitas tersebut dapat menunjang mobilitas barang dan membantu perusahaan menjalankan kegiatan operasional secara lebih efisien.
General Manager Business Development and Technical Agung Intiland, Farizki Hakim Rosyidi, mengatakan pengembangan kawasan bisnis perlu memperhatikan kebutuhan pengguna dalam jangka panjang.
Menurut Farizki, nilai sebuah kawasan tidak hanya ditentukan oleh tampilan bangunan atau lokasi, tetapi juga kemampuannya mendukung efisiensi operasional dan keterhubungan dengan rantai pasok.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan kawasan perlu diarahkan untuk membangun ekosistem bisnis yang terintegrasi dan produktif. Perencanaan tersebut juga perlu memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk berkembang mengikuti perubahan kebutuhan pasar.
Selain konektivitas, fleksibilitas bangunan menjadi pertimbangan lain. Perusahaan membutuhkan ruang yang dapat menyesuaikan dengan aktivitas operasional maupun rencana ekspansi, sehingga fungsi bangunan dan perencanaan kawasan perlu dirancang secara terpadu.
Farizki menilai perencanaan jangka panjang penting untuk menjaga relevansi kawasan terhadap perubahan kebutuhan pengguna. Infrastruktur, konektivitas, dan fungsi kawasan perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari satu kesatuan pengembangan.
Luxima Bizhub Jadi Salah Satu Contoh Pengembangan
Salah satu contoh pengembangan properti di segmen tersebut adalah Laksana Business Park yang dikembangkan Agung Intiland. Kawasan ini memiliki klaster pergudangan bernama Luxima Bizhub yang dirancang untuk menunjang kebutuhan operasional dan perkembangan usaha.
Farizki mengatakan ruang usaha idealnya dapat mengikuti perubahan kebutuhan perusahaan, bukan hanya berfungsi sebagai tempat menjalankan aktivitas bisnis.
Menurut dia, fleksibilitas dan kemampuan kawasan mendukung pertumbuhan usaha menjadi bagian dari pendekatan pengembangan Luxima Bizhub.
Meski demikian, peluang bisnis pergudangan tetap bergantung pada kebutuhan pasar, kesesuaian lokasi, aksesibilitas, dan kemampuan kawasan dalam menunjang aktivitas usaha.
Dengan demikian, properti pergudangan dapat menjadi alternatif pengembangan di luar hunian bagi pelaku industri properti. Namun, keputusan pengembangan tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan pengguna dan karakteristik pasar di masing-masing kawasan.
Sebagai informasi, Agung Intiland dan Luxima Bizhub meraih penghargaan Best Industrial & Business Park Developer – Indonesia dan Best Innovative Business Hub Development – Indonesia dalam Indonesia Real Estate Awards 2026 pada September 2026. (Red)

