Site icon Korelasi.co

Mobil Listrik Lebih Hemat? Ini Perhitungan Biaya Kepemilikannya

KORELASI.CO — Apakah mobil listrik lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak? Pertanyaan tersebut semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Beragam merek dan model kini menawarkan pilihan kendaraan berbasis listrik bagi konsumen.

Mobil listrik tidak lagi hanya menyasar kelompok konsumen tertentu. Namun, popularitasnya belum otomatis menjadikan kendaraan ini pilihan paling ekonomis bagi semua orang.

Konsumen perlu menghitung seluruh biaya kepemilikan sebelum membeli mobil listrik. Perhitungan tersebut mencakup harga pembelian, biaya energi, perawatan, jarak tempuh, fasilitas pengisian daya, dan masa penggunaan kendaraan.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan battery electric vehicle (BEV) pada Januari-November 2025 mencapai 82.525 unit. Angka tersebut setara dengan 11,62 persen dari total penjualan kendaraan nasional selama periode tersebut.

Data itu menunjukkan bahwa kendaraan listrik mulai mengambil bagian dalam industri otomotif Indonesia. Meskipun demikian, konsumen tetap perlu menyesuaikan keputusan pembelian dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.

Mobil Listrik Lebih Hemat dari Sisi Biaya Operasional

Salah satu pertimbangan utama dalam memilih mobil listrik adalah biaya operasional. Kendaraan listrik menggunakan energi listrik untuk menggerakkan motor, sedangkan kendaraan konvensional mengandalkan bahan bakar seperti bensin.

Perbedaan sumber energi tersebut dapat memengaruhi biaya penggunaan kendaraan. Dalam kondisi tertentu, biaya pengisian daya mobil listrik bisa lebih rendah daripada pengeluaran bahan bakar kendaraan konvensional.

Selain itu, mobil listrik memiliki lebih sedikit komponen mekanis bergerak dibandingkan kendaraan dengan mesin pembakaran internal. Kondisi ini dapat mengurangi kebutuhan perawatan pada sejumlah komponen.

Namun, besarnya penghematan tetap bergantung pada jenis kendaraan, tarif energi, pola penggunaan, dan biaya perawatan. Karena itu, konsumen tidak cukup hanya membandingkan biaya pengisian daya.

Penelitian Menggunakan Pendekatan Total Cost of Ownership

Penelitian Rio Pradana Manggala Putra, Zsuzsanna Csereklyei, dan Lasantha Meegahapola yang terbit pada 2026 dalam Transportation Research Part D: Transport and Environment membahas kelayakan ekonomi kendaraan listrik di Indonesia.

Berdasarkan bahan yang tersedia, penelitian tersebut menemukan bahwa sebagian besar model kendaraan listrik di Indonesia memiliki daya saing biaya ketika peneliti menggunakan pendekatan total cost of ownership (TCO).

Pendekatan TCO menghitung keseluruhan biaya yang muncul selama konsumen memiliki dan menggunakan kendaraan. Perhitungan ini tidak hanya mencakup harga pembelian, tetapi juga biaya energi, perawatan, dan komponen pengeluaran lainnya.

Studi tersebut juga menunjukkan peran kebijakan pajak dan subsidi dalam meningkatkan kelayakan ekonomi kendaraan listrik.

Dengan demikian, pertanyaan apakah mobil listrik lebih hemat perlu dijawab melalui perhitungan menyeluruh. Biaya operasional yang rendah belum tentu menutupi selisih harga pembelian dengan kendaraan konvensional.

Harga Pembelian Menjadi Faktor Penting

Harga pembelian tetap menjadi salah satu komponen utama dalam perhitungan biaya kepemilikan. Konsumen perlu membandingkan mobil listrik dengan kendaraan bermesin pembakaran internal yang memiliki kelas, ukuran, fitur, dan fungsi serupa.

Kendaraan dengan harga awal lebih tinggi membutuhkan perhitungan yang lebih cermat. Konsumen perlu memperkirakan berapa lama mereka akan menggunakan kendaraan tersebut dan seberapa besar penghematan yang mungkin diperoleh.

Penelitian mengenai adopsi kendaraan listrik di Indonesia yang terbit dalam Cleaner Engineering and Technology pada 2025 menyebut beberapa faktor yang memengaruhi keputusan konsumen.

Faktor tersebut meliputi:

Berbagai faktor tersebut menunjukkan bahwa keputusan membeli mobil listrik tidak hanya bergantung pada biaya energi. Konsumen juga perlu mempertimbangkan kondisi penggunaan dan pengeluaran selama masa kepemilikan.

Jarak Tempuh Memengaruhi Potensi Penghematan

Jarak perjalanan harian turut menentukan besarnya manfaat ekonomi kendaraan listrik. Pengguna yang menempuh jarak jauh setiap hari berpotensi memperoleh penghematan lebih besar dari biaya energi yang relatif rendah.

Sebaliknya, pemilik yang jarang menggunakan kendaraan mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menutup selisih harga pembelian melalui penghematan operasional.

Sebagai contoh, konsumen yang menggunakan mobil setiap hari untuk bekerja memiliki pola penggunaan berbeda dari pemilik yang hanya mengendarai mobil pada akhir pekan.

Karena itu, konsumen perlu menghitung jarak tempuh rata-rata sebelum mengambil keputusan. Perhitungan tersebut dapat membantu memperkirakan kebutuhan energi dan biaya penggunaan kendaraan.

Infrastruktur Pengisian Daya Perlu Diperhatikan

Ketersediaan fasilitas pengisian daya juga memengaruhi pengalaman menggunakan mobil listrik. Konsumen yang dapat mengisi daya di rumah memiliki kondisi berbeda dengan pengguna yang bergantung pada fasilitas pengisian umum.

Pengisian daya di rumah dapat memberikan kemudahan bagi pemilik yang memiliki akses terhadap fasilitas listrik yang sesuai. Namun, pengguna tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan instalasi, waktu pengisian, dan biaya listrik.

Sementara itu, pengguna yang sering bepergian jauh perlu memperhatikan ketersediaan fasilitas pengisian daya di sepanjang rute perjalanan.

Dengan mempertimbangkan infrastruktur tersebut, konsumen dapat menilai apakah mobil listrik sesuai dengan aktivitas sehari-hari. Kebutuhan pengisian daya harus menjadi bagian dari perencanaan sebelum pembelian.

Cara Menghitung Biaya Kepemilikan Mobil Listrik

Untuk mengetahui apakah mobil listrik lebih hemat, konsumen dapat membandingkan sejumlah komponen biaya secara menyeluruh.

Perhitungan tersebut setidaknya mencakup:

  1. Harga pembelian: biaya yang dikeluarkan saat membeli kendaraan.
  2. Biaya energi: pengeluaran untuk mengisi daya baterai atau membeli bahan bakar.
  3. Biaya perawatan: pengeluaran untuk servis dan penggantian komponen.
  4. Biaya pendukung: biaya pengisian daya, instalasi, dan kebutuhan lain yang relevan.
  5. Masa kepemilikan: lamanya konsumen menggunakan kendaraan.
  6. Nilai jual kembali: perkiraan nilai kendaraan ketika pemilik menjualnya.

Konsumen dapat menggunakan komponen tersebut untuk membandingkan mobil listrik dengan kendaraan konvensional yang memiliki spesifikasi dan fungsi sejenis.

Perhitungan yang lebih lengkap akan memberikan gambaran mengenai biaya kendaraan dalam jangka waktu tertentu. Namun, hasilnya tetap bergantung pada harga kendaraan, tarif energi, jarak tempuh, dan kondisi penggunaan masing-masing pemilik.

Mobil Listrik Perlu Disesuaikan dengan Kebutuhan

Meningkatnya pilihan merek dan model membuat konsumen memiliki lebih banyak alternatif kendaraan. Akan tetapi, setiap orang mempunyai kebutuhan perjalanan dan kemampuan finansial yang berbeda.

Pengguna yang menempuh jarak jauh setiap hari mungkin lebih memperhatikan biaya energi. Sementara itu, konsumen yang tinggal di tempat tanpa fasilitas pengisian daya memadai perlu mempertimbangkan aspek infrastruktur.

Selain itu, harga pembelian dan biaya perawatan tetap memengaruhi total pengeluaran. Karena itu, konsumen sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan klaim bahwa mobil listrik lebih hemat.

Pada akhirnya, tingkat penghematan kendaraan listrik bergantung pada keseluruhan struktur biaya dan pola penggunaan pemilik. Dengan membandingkan harga pembelian, energi, perawatan, jarak tempuh, dan masa kepemilikan, konsumen dapat menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan nyata.

Mobil listrik dapat menawarkan potensi penghematan, tetapi hasilnya tidak selalu sama bagi setiap pengguna. Perhitungan menyeluruh dan pertimbangan terhadap fasilitas pengisian daya menjadi langkah penting sebelum konsumen membeli kendaraan berbasis listrik. (Red)

Exit mobile version