Site icon Korelasi.co

Harga Mobil Bekas Makin Menarik, Kapan Waktu yang Tepat Membeli?

KORELASI.CO – Harga mobil baru yang terus mengalami kenaikan membuat kendaraan bekas semakin dilirik masyarakat Indonesia. Mobil seken kini bukan hanya menjadi pilihan bagi konsumen dengan anggaran terbatas, tetapi juga alternatif untuk mendapatkan kendaraan dengan fungsi yang masih baik tanpa harus menanggung penurunan nilai terbesar pada awal kepemilikan.

Besarnya pasar kendaraan bekas menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap mobil seken. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) pada September 2026 menyebut pasar mobil bekas berada di kisaran 1,6 juta hingga 1,7 juta unit per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penjualan mobil baru yang berada di kisaran 800 ribuan unit.

Menurut GAIKINDO, kondisi tersebut telah berlangsung sekitar dua tahun terakhir. Tekanan daya beli masyarakat serta meningkatnya harga mobil baru menjadi sejumlah faktor yang berkaitan dengan kondisi pasar tersebut.

Depresiasi Jadi Pertimbangan Utama

Salah satu alasan mobil bekas memiliki harga lebih terjangkau adalah depresiasi atau penyusutan nilai kendaraan. Mobil baru biasanya mengalami penurunan harga setelah digunakan. Ketika dibeli oleh pemilik kedua, sebagian depresiasi tersebut telah ditanggung oleh pemilik pertama.

Namun, penurunan harga setiap kendaraan tidak selalu sama. Data yang dipaparkan GAIKINDO dari OLX menunjukkan adanya perbedaan depresiasi antara mobil bermesin pembakaran internal, hybrid, dan mobil listrik berbasis baterai.

Mobil konvensional dan hybrid dalam data tersebut mengalami depresiasi sekitar 10–15 persen per tahun. Sementara itu, beberapa mobil listrik tercatat mengalami penurunan nilai yang lebih besar.

Karena itu, konsumen tidak sebaiknya hanya melihat harga jual ketika memilih mobil bekas. Kemampuan kendaraan mempertahankan nilai jual juga perlu diperhatikan agar keputusan pembelian lebih ekonomis.

Kapan Waktu yang Tepat Membeli?

Tidak ada waktu tertentu yang dapat menjamin harga mobil bekas selalu berada pada titik termurah. Konsumen perlu melihat kondisi pasar sekaligus kebutuhan penggunaan kendaraan.

Pergantian tahun atau peluncuran generasi baru dapat menjadi salah satu momentum yang diperhatikan. Ketika model terbaru hadir, harga generasi sebelumnya berpotensi mengalami penyesuaian. Situasi tersebut dapat menjadi peluang bagi konsumen yang tidak membutuhkan teknologi paling baru.

Promosi mobil baru juga perlu menjadi pertimbangan. Ketika dealer memberikan diskon untuk menghabiskan stok, selisih harga antara mobil baru dan bekas bisa menjadi lebih kecil. Konsumen perlu membandingkan total biaya, termasuk pajak, asuransi, perawatan, dan pembiayaan.

Jangan Hanya Mengejar Harga Murah

Harga rendah tidak selalu berarti biaya kepemilikan kendaraan juga murah. Tahun produksi, jarak tempuh, jenis mesin, transmisi, kondisi kendaraan, serta riwayat servis dapat memengaruhi nilai mobil bekas.

Penelitian Preeti Arora, Harshit Gupta, dan Ajit Singh menunjukkan bahwa tahun produksi, jarak tempuh, jenis bahan bakar, dan transmisi merupakan beberapa variabel yang berpengaruh terhadap prediksi harga mobil bekas.

Sementara itu, penelitian Svenja Bergmann dan Stefan Feuerriegel menunjukkan bahwa detail perlengkapan kendaraan juga dapat membantu memperkirakan harga jual kembali.

Oleh sebab itu, konsumen sebaiknya tidak hanya membandingkan harga dalam iklan. Kondisi dua mobil dengan tahun produksi sama bisa berbeda karena jarak tempuh, perawatan, kondisi bodi, fitur, hingga riwayat kecelakaan.

Perhatikan Perkembangan Mobil Baru

Pasar mobil baru juga dapat memengaruhi harga kendaraan bekas. Pada Agustus 2026, penjualan mobil baru Indonesia mencapai 81.756 unit secara wholesales dan 83.422 unit secara retail. Secara Januari–Agustus 2026, penjualan mencapai 594.984 unit.

Pertumbuhan kendaraan listrik turut mengubah persaingan pasar. Pada Agustus 2026, BYD mencatat penjualan wholesales sebanyak 7.870 unit dan retail 6.861 unit.

Bertambahnya model baru dapat membuat harga kendaraan lama semakin menarik, tetapi mobil dengan teknologi yang berubah cepat juga berpotensi mengalami depresiasi lebih tinggi.

Pada akhirnya, waktu terbaik membeli mobil bekas bukan sekadar ketika harga berada di titik paling rendah. Konsumen perlu mencari keseimbangan antara harga, kondisi kendaraan, kebutuhan, dan kemampuan anggaran agar memperoleh kendaraan dengan nilai ekonomis yang sesuai. (Red)

Exit mobile version