Korelasi.co– Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Senin, 22 Juni 2026, dengan pelemahan di tengah tekanan yang juga dialami sejumlah mata uang Asia.
Mengacu pada data pasar, rupiah dibuka pada level Rp17.812 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,12 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan mata uang Garuda terjadi seiring masih kuatnya posisi dolar AS di pasar global. Indeks dolar yang bertahan pada level tinggi mendorong tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga tercatat bergerak di zona merah terhadap dolar AS. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons berbagai sentimen global yang berkembang.
Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap aset-aset yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. Arus dana yang mengalir ke instrumen berbasis dolar turut memperkuat posisi mata uang tersebut terhadap berbagai mata uang dunia.
Selain itu, pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan moneter bank sentral AS yang diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan.
Di saat yang sama, perkembangan geopolitik internasional juga menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi sentimen risiko dan pergerakan nilai tukar di pasar valuta asing.
Meski membuka perdagangan di zona negatif, pergerakan rupiah sepanjang hari masih berpeluang dipengaruhi berbagai sentimen domestik maupun global yang muncul selama sesi perdagangan berlangsung.

