KORELASI.CO-Harga emas yang bergerak fluktuatif membuat sebagian calon investor memilih menunggu sebelum membeli. Kekhawatiran membeli ketika harga berada di level tinggi menjadi salah satu alasan utama.
Pertanyaannya, apakah harga emas akan turun lagi dalam waktu dekat? Jawabannya, peluang koreksi tetap terbuka. Namun, penurunan jangka pendek tidak otomatis berarti tren emas dalam jangka panjang telah berakhir.
Pergerakan emas dipengaruhi banyak faktor. Kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga, inflasi, nilai dolar AS, ketegangan geopolitik, hingga sentimen investor dapat memengaruhi harga.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya berpatokan pada pergerakan harga dalam beberapa hari atau minggu.
Mengapa Harga Emas Bisa Turun?
Koreksi harga emas dapat terjadi ketika sentimen pasar berubah. Salah satunya ketika investor mulai mengalihkan dana dari aset safe haven ke instrumen yang dianggap lebih berisiko.
Selain itu, kebijakan bank sentral juga berperan penting. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga dapat memengaruhi daya tarik emas dibandingkan aset berbasis imbal hasil.
Nilai dolar AS juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Ketika dolar menguat, harga emas yang diperdagangkan dalam dolar dapat menghadapi tekanan.
Meski demikian, faktor tersebut tidak bekerja secara terpisah. Kondisi geopolitik dan ketidakpastian ekonomi juga dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Prospek Harga Emas Masih Menjadi Perhatian
Sejumlah lembaga keuangan sebelumnya memberikan proyeksi positif terhadap harga emas.
Deutsche Bank, misalnya, memperkirakan rata-rata harga emas pada 2026 dapat mencapai US$3.700 per troy ounce.
Sementara itu, Goldman Sachs sebelumnya memproyeksikan harga emas dapat mendekati US$4.000 per troy ounce pada pertengahan 2026. Proyeksi tersebut antara lain dikaitkan dengan ekspektasi penurunan suku bunga, permintaan safe haven, ketegangan perdagangan, dan kekhawatiran fiskal global.
Bank of America juga memperkirakan harga emas dapat meningkat pada 2026. Sementara itu, J.P. Morgan memiliki proyeksi yang optimistis terhadap emas dengan target sekitar US$4.000 per troy ounce pada 2026.
Namun, proyeksi lembaga keuangan bukanlah jaminan harga akan mencapai level tersebut. Kondisi pasar dapat berubah sehingga investor tetap perlu mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan.
Haruskah Menunggu Harga Emas Turun?
Menunggu harga emas mencapai titik terendah terdengar menarik. Namun, persoalannya adalah tidak ada yang dapat memastikan kapan harga tersebut akan tercapai.
Jika investor terus menunggu, ada kemungkinan harga justru kembali naik sebelum pembelian dilakukan.
Karena itu, investor dengan tujuan jangka panjang dapat mempertimbangkan pembelian secara bertahap. Salah satu strategi yang sering digunakan adalah Dollar Cost Averaging (DCA).
Apa Itu Strategi DCA?
Dollar Cost Averaging merupakan strategi membeli aset secara berkala dengan nominal dana yang relatif sama.
Misalnya, seseorang memiliki anggaran investasi emas Rp18 juta untuk satu tahun. Dana tersebut dapat dibagi menjadi Rp1,5 juta setiap bulan.
Dengan cara tersebut, investor tidak perlu memasukkan seluruh dana sekaligus ketika harga emas berada pada satu titik tertentu.
Ketika harga turun, Rp1,5 juta dapat membeli gramasi yang lebih banyak. Sebaliknya, ketika harga naik, gramasi yang diperoleh menjadi lebih sedikit.
Dengan demikian, pembelian dilakukan pada berbagai tingkat harga.
Contoh Simulasi Investasi Emas
Sebagai ilustrasi, berikut simulasi pembelian emas dengan dana Rp1,5 juta setiap bulan.
| Bulan | Harga Emas/Gram | Investasi | Gramasi |
|---|---|---|---|
| Juli 2026 | Rp2.566.000 | Rp1.500.000 | 0,5846 gram |
| Agustus 2026 | Rp2.540.000 | Rp1.500.000 | 0,5906 gram |
| September 2026 | Rp2.590.000 | Rp1.500.000 | 0,5792 gram |
| Oktober 2026 | Rp2.620.000 | Rp1.500.000 | 0,5725 gram |
| November 2026 | Rp2.610.000 | Rp1.500.000 | 0,5747 gram |
| Desember 2026 | Rp2.650.000 | Rp1.500.000 | 0,5660 gram |
| Januari 2027 | Rp2.700.000 | Rp1.500.000 | 0,5556 gram |
| Februari 2027 | Rp2.680.000 | Rp1.500.000 | 0,5597 gram |
| Maret 2027 | Rp2.730.000 | Rp1.500.000 | 0,5495 gram |
| April 2027 | Rp2.760.000 | Rp1.500.000 | 0,5435 gram |
| Mei 2027 | Rp2.740.000 | Rp1.500.000 | 0,5474 gram |
| Juni 2027 | Rp2.790.000 | Rp1.500.000 | 0,5376 gram |
Total dana: Rp18.000.000.
Catatan: simulasi di atas menggunakan angka harga yang terdapat dalam materi dan hanya bersifat ilustrasi. Hasil investasi sebenarnya dapat berbeda.
Keuntungan dan Risiko Strategi DCA
Strategi DCA memiliki kelebihan karena investor tidak perlu menebak titik harga terendah.
Selain itu, investasi dapat dilakukan secara rutin sesuai kemampuan keuangan. Strategi ini juga membantu mengurangi risiko menempatkan seluruh dana pada satu harga pembelian.
Namun, DCA bukan strategi yang menjamin keuntungan.
Jika harga emas terus turun dalam periode tertentu, nilai investasi tetap dapat mengalami penurunan. Sebaliknya, jika harga langsung naik setelah pembelian pertama, membeli secara sekaligus bisa saja menghasilkan gramasi lebih besar dibandingkan DCA.
Oleh sebab itu, strategi investasi harus disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, kemampuan finansial, dan toleransi risiko masing-masing investor.
Tips Investasi Emas Saat Harga Berfluktuasi
Ada beberapa hal yang dapat diperhatikan ketika harga emas bergerak naik turun.
Tentukan Tujuan Investasi
Pertama, tentukan alasan membeli emas. Apakah untuk dana pendidikan, persiapan pensiun, tabungan jangka panjang, atau tujuan lainnya?
Tujuan tersebut akan membantu menentukan jangka waktu dan strategi investasi.
Jangan Gunakan Dana Darurat
Investasi sebaiknya menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi.
Jangan menggunakan dana kebutuhan sehari-hari atau dana darurat hanya karena khawatir harga emas akan segera naik.
Perhatikan Harga Buyback
Investor emas fisik juga perlu memahami selisih antara harga pembelian dan harga buyback.
Selisih tersebut membuat investasi emas umumnya lebih cocok untuk tujuan jangka menengah atau panjang dibandingkan mengejar keuntungan dari pergerakan harga harian.
Jangan Terjebak FOMO
Ketika harga emas naik tajam, investor bisa tergoda membeli karena takut ketinggalan momentum.
Sebaliknya, ketika harga turun, kepanikan juga dapat mendorong keputusan terburu-buru.
Karena itu, investor sebaiknya memiliki rencana pembelian yang jelas dan menjalankannya secara disiplin.
Jadi, Apakah Harga Emas Akan Turun Lagi?
Harga emas masih berpotensi mengalami koreksi dalam jangka pendek. Namun, tidak ada kepastian mengenai kapan koreksi terjadi, seberapa dalam penurunannya, atau apakah harga akan kembali naik setelahnya.
Berbagai proyeksi lembaga keuangan menunjukkan masih adanya pandangan positif terhadap emas. Meski demikian, proyeksi tersebut tetap harus dipandang sebagai perkiraan, bukan kepastian.
Bagi investor jangka panjang, menunggu harga emas turun ke titik tertentu bukan satu-satunya pilihan. Pembelian secara berkala melalui strategi DCA dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada kemampuan memprediksi pasar.
Kesimpulan
Pertanyaan apakah harga emas akan turun lagi tidak memiliki jawaban pasti. Emas dapat mengalami koreksi akibat perubahan suku bunga, dolar AS, kondisi ekonomi global, maupun sentimen pasar.
Namun, koreksi jangka pendek tidak selalu berarti prospek emas dalam jangka panjang berubah.
Jika ingin mulai berinvestasi, investor dapat mempertimbangkan pembelian bertahap sesuai kemampuan finansial. Dengan strategi DCA, investor tidak harus menebak harga terendah dan dapat membangun investasi secara konsisten.
Tetap lakukan riset sebelum membeli. Yang tidak kalah penting, sesuaikan investasi dengan tujuan dan kemampuan finansial masing-masing.
Sumber: PEGADAIAN

