Site icon Korelasi.co

Growth vs Value Investing, Ini Perbedaan Strategi dan Risikonya

KORELASI.CO- Growth vs value investing merupakan dua pendekatan dalam investasi saham yang memiliki fokus berbeda.

Growth investing mengutamakan potensi pertumbuhan perusahaan pada masa depan, sedangkan value investing mencari saham yang diperdagangkan di bawah estimasi nilai wajarnya. Keduanya dapat menjadi pertimbangan investor, bergantung pada tujuan keuangan, toleransi risiko, dan hasil analisis terhadap perusahaan.

Memahami perbedaan kedua strategi tersebut penting sebelum mengambil keputusan investasi. Sebab, potensi keuntungan yang ditawarkan setiap pendekatan juga disertai risiko yang perlu diperhitungkan.

Mengenal Value Investing

Value investing adalah strategi investasi yang berfokus pada pembelian saham perusahaan ketika harga pasarnya berada di bawah estimasi nilai intrinsiknya. Pendekatan ini mengandalkan analisis fundamental untuk menilai kondisi keuangan, arus kas, tingkat utang, dan kualitas bisnis perusahaan.

Dalam praktiknya, investor value tidak hanya melihat harga saham yang murah. Mereka juga mempertimbangkan apakah perusahaan memiliki fundamental yang memadai dan apakah harga pasar saat ini memberikan ruang perlindungan terhadap risiko penurunan nilai investasi.

Ciri-ciri Value Investing

Saham yang dipertimbangkan dalam strategi value investing umumnya memiliki sejumlah karakteristik berikut:

Valuasi relatif rendah: Rasio seperti price-to-earnings (P/E) dan price-to-book (P/B) dapat menjadi bahan pertimbangan ketika dibandingkan dengan perusahaan sejenis.

Bisnis yang relatif mapan: Investor dapat mencari perusahaan dengan model bisnis yang telah teruji dan kondisi keuangan yang memadai.

Potensi pembagian dividen: Sebagian perusahaan mapan membagikan dividen, meskipun pembayaran tersebut tidak selalu dijamin.

Pertumbuhan yang lebih moderat: Beberapa perusahaan value memiliki pertumbuhan pendapatan yang relatif stabil dibandingkan perusahaan yang sedang berekspansi agresif.

Investor value biasanya melakukan analisis laporan keuangan dan memperkirakan nilai intrinsik perusahaan sebelum membeli saham. Salah satu prinsip yang digunakan adalah margin of safety, yakni selisih antara estimasi nilai intrinsik dan harga pembelian untuk memberikan ruang menghadapi ketidakpastian.

Strategi ini umumnya berorientasi jangka panjang. Investor menunggu hingga kinerja perusahaan atau penilaian pasar mencerminkan nilai bisnis yang diperkirakan.

Meski demikian, harga saham yang rendah tidak selalu menunjukkan peluang investasi. Valuasi murah juga dapat mencerminkan penurunan prospek bisnis atau masalah fundamental yang belum terselesaikan.

Mengenal Growth Investing

Berbeda dengan value investing, growth investing berfokus pada perusahaan yang diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan atau labanya lebih cepat daripada perusahaan sejenis maupun pasar secara keseluruhan.

Investor dengan pendekatan ini mencari bisnis yang memiliki prospek ekspansi, keunggulan kompetitif, atau kemampuan berinovasi. Mereka mempertimbangkan potensi perkembangan perusahaan pada masa depan, meskipun harga sahamnya terlihat relatif mahal berdasarkan sejumlah indikator valuasi.

Ciri-ciri Growth Investing

Beberapa karakteristik yang kerap ditemukan dalam saham growth meliputi:

1.Ekspektasi pertumbuhan tinggi

Perusahaan diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan atau laba secara signifikan.

2.Fokus pada ekspansi

Perusahaan dapat mengalokasikan kembali keuntungan untuk mengembangkan produk, teknologi, atau pasar.

3.Valuasi relatif tinggi

Harga saham dapat mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang besar dari investor.

4.Dividen bukan prioritas utama

Sebagian perusahaan growth memilih menggunakan laba untuk mendukung ekspansi, meskipun tidak semua saham growth menghindari pembagian dividen.

Untuk menilai saham growth, investor perlu memperhatikan prospek industri, posisi perusahaan dalam persaingan, kemampuan manajemen, serta keberlanjutan pertumbuhan pendapatan dan laba.

Strategi ini umumnya mengharapkan keuntungan dari kenaikan harga saham atau capital gain Namun, potensi tersebut bergantung pada kemampuan perusahaan mewujudkan ekspektasi pertumbuhan yang sudah diperhitungkan dalam harga sahamnya.

Jika pertumbuhan melambat atau kinerja perusahaan tidak memenuhi ekspektasi pasar, harga saham dapat terkoreksi.

Perbedaan Growth Investing dan Value Investing

Perbedaan utama kedua strategi terletak pada fokus analisis, karakteristik perusahaan yang dicari, dan sumber potensi keuntungan.

Perbedaan tersebut tidak berarti kedua pendekatan selalu bertentangan. Sebuah perusahaan dapat memiliki prospek pertumbuhan yang kuat sekaligus diperdagangkan pada valuasi yang menarik. Karena itu, investor tetap perlu menilai kondisi masing-masing perusahaan secara menyeluruh.

Mana yang Lebih Menguntungkan?

Tidak ada strategi yang selalu memberikan keuntungan lebih besar dalam setiap kondisi pasar. Hasil investasi dipengaruhi oleh harga pembelian, kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, valuasi, dan jangka waktu investasi.

Growth investing berpotensi memberikan keuntungan melalui kenaikan harga saham apabila perusahaan berhasil mengembangkan bisnisnya. Namun, saham dengan ekspektasi pertumbuhan tinggi juga dapat mengalami penurunan tajam ketika prospeknya memburuk atau pasar menilai ulang valuasinya.

Sementara itu, value investing berupaya menemukan saham yang harganya berada di bawah estimasi nilai intrinsik. Pendekatan ini dapat memberikan ruang perlindungan melalui margin of safety, tetapi tidak menghilangkan risiko kerugian. Harga saham yang murah dapat bertahan lama atau bahkan terus menurun apabila fundamental perusahaan melemah.

Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak memilih strategi hanya berdasarkan potensi keuntungan yang terlihat. Analisis terhadap kondisi bisnis, valuasi, dan risiko tetap diperlukan sebelum mengambil keputusan.

Apakah Value Investing Lebih Aman?

Value investing kerap dipandang lebih defensif karena menekankan pembelian saham dengan harga di bawah estimasi nilai intrinsiknya. Meski demikian, pendekatan tersebut tidak otomatis membuat investasi menjadi aman.

Estimasi nilai intrinsik bergantung pada asumsi dan data yang digunakan. Jika analisis keliru atau kondisi bisnis berubah, saham yang awalnya dianggap murah bisa mengalami penurunan lebih lanjut.

Growth investing juga tidak selalu lebih berisiko dalam setiap situasi. Risiko aktual bergantung pada karakteristik perusahaan, harga saham, kondisi keuangan, dan harga yang dibayarkan investor.

Dengan demikian, kedua strategi tetap membutuhkan analisis fundamental, pemahaman terhadap risiko, dan pengelolaan portofolio yang sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing investor.

Cara Memilih Strategi Investasi yang Sesuai

Sebelum menentukan pendekatan investasi, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan.

Pertama, tentukan tujuan keuangan dan jangka waktu investasi. Tujuan tersebut membantu investor menilai seberapa besar fluktuasi nilai investasi yang dapat ditoleransi.

Kedua, pahami profil risiko pribadi. Investor perlu mempertimbangkan kemampuan finansial dan kesiapan menghadapi kemungkinan kerugian, bukan hanya mengejar potensi keuntungan.

Ketiga, pelajari fundamental perusahaan. Dalam growth investing, perhatian dapat diarahkan pada keberlanjutan pertumbuhan bisnis. Dalam value investing, investor dapat menilai kewajaran valuasi dan kualitas fundamental perusahaan.

Keempat, jangan hanya mengandalkan satu indikator. Rasio P/E dan P/B, misalnya, perlu dibaca bersama kondisi industri, prospek bisnis, struktur utang, arus kas, serta faktor relevan lainnya.

Terakhir, lakukan diversifikasi sesuai kebutuhan. Menempatkan dana pada beberapa aset atau perusahaan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu sumber risiko, meskipun tidak menjamin portofolio bebas dari kerugian.

Pada akhirnya, growth investing dan value investing menawarkan pendekatan yang berbeda dalam menilai peluang saham. Growth investing menitikberatkan prospek pertumbuhan, sedangkan value investing mencari selisih antara harga pasar dan estimasi nilai intrinsik. Investor perlu memahami karakteristik, keterbatasan, dan risiko masing-masing strategi sebelum menentukan pilihan. (Red)

Catatan Redaksi: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Sebagai Perbandingan bacalah Situs Resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  untuk referensi edukasi dan perlindungan investor dan Bursa Efek Indonesia (BEI)  untuk informasi pasar modal dan edukasi investasi.

Exit mobile version