KORELASI.CO- Setelah membahas pengertian inflasi dan deflasi secara umum, mari bahas lebih dalam apakah inflasi atau deflasi yang lebih buruk? Berikut ini paparannya.
Inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia membagi inflasi menjadi tiga kelompok utama, yaitu inflasi inti, volatile food, dan administered prices. Masing-masing memiliki karakteristik serta penyebab yang berbeda.
Inflasi Inti (Core Inflation)
Inflasi inti merupakan komponen inflasi yang relatif stabil dan menjadi indikator utama untuk melihat tekanan harga dalam jangka menengah hingga panjang. Perhitungan inflasi inti tidak memasukkan harga pangan bergejolak maupun komoditas energi, serta barang dan jasa yang tarifnya ditetapkan pemerintah.
Komponen ini dianggap lebih mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya karena dipengaruhi oleh permintaan masyarakat, tingkat pendapatan, dan aktivitas ekonomi.
Contoh komponen inflasi inti antara lain:
- Biaya sewa atau kontrakan rumah
- Biaya pendidikan
- Harga pakaian
- Tarif salon dan jasa potong rambut
- Berbagai layanan lainnya
Harga Pangan Bergejolak (Volatile Food)
Volatile food adalah kelompok bahan pangan yang pergerakan harganya sangat dipengaruhi faktor musiman dan kondisi pasokan. Perubahan cuaca, musim panen, gangguan distribusi, hingga serangan hama dapat menyebabkan harga komoditas ini naik maupun turun dalam waktu singkat.
Meski fluktuasinya cukup tajam, perubahan harga volatile food umumnya bersifat sementara dan belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Beberapa contoh komoditas volatile food meliputi:
- Cabai
- Bawang merah
- Beras
- Ikan laut
- Sayuran dan bahan pangan segar lainnya
Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices)
Administered prices merupakan kelompok barang dan jasa yang harga atau tarifnya ditetapkan oleh pemerintah. Perubahan harga pada kelompok ini biasanya dilakukan melalui kebijakan fiskal maupun kebijakan publik.
Penyesuaian administered prices dapat memengaruhi tingkat inflasi secara langsung karena berkaitan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Contohnya meliputi:
- Tarif listrik
- Harga BBM bersubsidi
- Tarif angkutan umum
- Tarif air bersih
- Beberapa jenis biaya layanan publik
Dampak Inflasi terhadap Perekonomian
Inflasi tidak selalu berdampak buruk. Dalam tingkat yang terkendali, inflasi justru menjadi indikator pertumbuhan ekonomi yang sehat. Namun apabila kenaikannya terlalu tinggi, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat maupun dunia usaha.
Daya Beli Masyarakat Menurun
Dampak paling nyata dari inflasi adalah berkurangnya daya beli. Ketika harga barang dan jasa meningkat, jumlah uang yang sama hanya mampu membeli lebih sedikit kebutuhan dibandingkan sebelumnya.
Sebagai contoh, barang yang saat ini seharga Rp100.000 akan menjadi sekitar Rp103.000 apabila inflasi mencapai 3 persen dalam setahun. Jika pendapatan tidak ikut meningkat, kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pun akan menurun.
Mendorong Kenaikan Upah
Naiknya harga kebutuhan hidup biasanya diikuti tuntutan kenaikan gaji atau upah. Di satu sisi, penyesuaian tersebut membantu menjaga daya beli pekerja.
Namun di sisi lain, kenaikan biaya tenaga kerja juga dapat meningkatkan biaya produksi perusahaan sehingga harga barang kembali naik. Kondisi ini dikenal sebagai spiral upah dan harga.
Mengurangi Minat Investasi
Inflasi yang terlalu tinggi dan sulit diprediksi dapat menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Akibatnya, perusahaan cenderung menunda ekspansi maupun investasi baru karena sulit memperkirakan biaya produksi dan keuntungan di masa mendatang.
Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dampak Deflasi terhadap Perekonomian
Deflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa mengalami penurunan secara umum. Sekilas kondisi ini tampak menguntungkan karena harga menjadi lebih murah. Namun dalam jangka panjang, deflasi justru dapat menimbulkan berbagai persoalan ekonomi.
Konsumsi dan Investasi Tertunda
Ketika harga terus menurun, masyarakat cenderung menunda pembelian karena berharap harga akan semakin murah di kemudian hari.
Perusahaan juga bisa menahan investasi dengan alasan yang sama. Akibatnya, permintaan melemah, produksi menurun, dan pertumbuhan ekonomi melambat.
Meningkatkan Risiko Pengangguran
Saat permintaan menurun, perusahaan biasanya melakukan efisiensi biaya. Salah satu langkah yang sering ditempuh adalah mengurangi jumlah tenaga kerja karena penurunan upah tidak selalu mudah dilakukan.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan angka pengangguran.
Memicu Stagnasi Ekonomi
Deflasi berkepanjangan berpotensi menyebabkan stagnasi ekonomi. Salah satu contoh yang sering dijadikan rujukan adalah Jepang pada era 1990-an yang mengalami periode “Dekade yang Hilang”. Selama masa tersebut, pertumbuhan ekonomi berjalan lambat akibat deflasi yang berlangsung dalam waktu lama.
Inflasi dan deflasi merupakan dua kondisi yang sama-sama memengaruhi stabilitas ekonomi. Inflasi yang berada pada tingkat wajar dapat menjadi tanda aktivitas ekonomi yang tumbuh sehat. Sebaliknya, inflasi yang terlalu tinggi mampu mengurangi daya beli masyarakat dan menekan investasi.
Di sisi lain, deflasi memang membuat harga menjadi lebih murah. Namun jika berlangsung berkepanjangan, kondisi ini dapat menghambat konsumsi, memperlambat investasi, meningkatkan pengangguran, hingga memicu stagnasi ekonomi.
Karena itu, menjaga stabilitas harga menjadi salah satu tujuan utama kebijakan ekonomi. Inflasi yang terkendali akan menciptakan iklim yang kondusif bagi konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terus terjaga.
Sumber : Bank Indonesia

