Korelasi.co- Harga Bitcoin dan mayoritas aset kripto bergerak melemah pada perdagangan Senin, 22 Juni 2026. Tekanan datang dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta pergeseran minat investor ke pasar saham Amerika Serikat.
Berdasarkan data CoinMarketCap hingga pukul 07.20 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 0,99 persen menjadi US$2,18 triliun. Bitcoin (BTC) terkoreksi 0,91 persen dan diperdagangkan di level US$63.585 per koin atau sekitar Rp1,13 miliar dengan asumsi kurs Rp17.801 per dolar AS.
Pelemahan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar juga berada di zona merah. Ethereum (ETH) turun 1,18 persen ke level US$1.714. Binance Coin (BNB) melemah 0,4 persen menjadi US$585, sementara XRP terkoreksi 1,6 persen ke posisi US$1,13 per token.
Di kelompok aset digital lainnya, Solana (SOL) tercatat turun 0,39 persen menjadi US$72,82. Adapun Dogecoin (DOGE) melemah 1,33 persen dan diperdagangkan pada level US$0,08.
Sentimen negatif juga tercermin dari pergerakan Indeks CoinDesk 20 yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar. Indeks tersebut turun 0,52 persen, menandakan tekanan yang terjadi merata di pasar aset digital.
Pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran meningkat setelah pembicaraan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss dilaporkan belum menghasilkan kemajuan signifikan.
Situasi semakin diperburuk oleh berlanjutnya serangan udara Israel ke wilayah Lebanon. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Pasar juga menyoroti ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik utama distribusi energi dunia. Jika ancaman tersebut terealisasi, pasar khawatir pasokan minyak global dapat terganggu dan memicu lonjakan harga energi.
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap aset kripto juga datang dari perubahan preferensi investor yang mulai mengalihkan dana ke pasar saham Amerika Serikat. Minat terhadap saham-saham teknologi kembali meningkat seiring optimisme terhadap prospek sektor kecerdasan buatan dan teknologi tinggi.
Ekspektasi pasar terhadap potensi penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk turut menjadi salah satu katalis yang mendorong arus dana masuk ke pasar ekuitas, sehingga mengurangi daya tarik aset berisiko seperti kripto dalam jangka pendek.*

