KORELASI.CO- Di tahun 2026, investor memiliki beragam pilihan instrumen untuk menempatkan dana, mulai dari emas, saham, obligasi, reksa dana, hingga aset berbasis teknologi. Namun, tidak ada satu instrumen yang secara otomatis menjadi pilihan terbaik bagi semua investor karena tingkat risiko, tujuan, jangka waktu, dan kondisi pasar setiap orang berbeda.
Materi Sahabat Pegadaian yang terbit pada 17 Februari 2026 mencantumkan 11 instrumen yang dinilai memiliki potensi untuk dipertimbangkan pada 2026. Daftar tersebut mencakup emas, saham, obligasi dan Surat Berharga Negara (SBN), aset kripto, reksa dana, perak, Exchange Traded Fund (ETF), deposito syariah, properti, energi terbarukan dan teknologi hijau, serta teknologi kecerdasan buatan (AI).
Sebelum menentukan pilihan, investor tetap perlu memahami karakteristik dan risiko setiap instrumen serta menyesuaikannya dengan profil risiko masing-masing.
Faktor yang Memengaruhi Hasil Investasi
Potensi keuntungan investasi tidak hanya ditentukan oleh jenis aset. Kondisi pasar dan faktor ekonomi juga dapat memengaruhi pergerakan harga maupun imbal hasil.
1. Profil Risiko
Setiap investor mempunyai toleransi risiko yang berbeda. Instrumen dengan potensi imbal hasil lebih tinggi umumnya juga dapat menghadirkan risiko dan fluktuasi yang lebih besar.
Karena itu, investor pemula perlu memahami kemampuan menanggung kerugian sebelum memilih instrumen investasi.
2. Kebijakan Suku Bunga
Perubahan suku bunga dapat memengaruhi daya tarik sejumlah instrumen investasi. Ketika suku bunga berubah, investor dapat menyesuaikan alokasi aset berdasarkan tujuan dan kondisi pasar.
Dampaknya juga berbeda-beda pada setiap instrumen sehingga tidak tepat menganggap penurunan atau kenaikan suku bunga selalu menguntungkan jenis investasi tertentu.
3. Perkembangan Teknologi
Perkembangan teknologi menciptakan peluang bagi berbagai perusahaan dan sektor ekonomi, termasuk teknologi digital, kecerdasan buatan, komputasi awan, dan otomatisasi.
Namun, perusahaan berbasis teknologi juga dapat menghadapi volatilitas tinggi sehingga peluang pertumbuhannya perlu dipertimbangkan bersama risikonya.
4. Kondisi Ekonomi Makro
Pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, konsumsi, dan kebijakan pemerintah dapat memengaruhi kondisi pasar keuangan.
Bahan sumber memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5-5,3 persen pada 2026 serta inflasi sekitar 2,5 persen dengan deviasi ±1 persen. Angka tersebut merupakan proyeksi dalam materi sumber dan bukan jaminan kondisi ekonomi sepanjang tahun.
5. Geopolitik Global
Ketegangan geopolitik dapat meningkatkan ketidakpastian pasar dan memengaruhi arus modal global. Perubahan kondisi tersebut juga dapat berdampak terhadap harga komoditas, nilai tukar, pasar saham, dan instrumen investasi lainnya.
Karena itu, investor perlu memperhitungkan kemungkinan terjadinya volatilitas ketika menyusun portofolio.
11 Pilihan Investasi yang Dipertimbangkan pada 2026
1. Emas
Emas merupakan salah satu aset yang sering digunakan sebagai bagian dari diversifikasi portofolio. Aset ini juga kerap mendapat perhatian ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat.
Emas dapat tersedia dalam bentuk fisik maupun digital. Namun, harga emas tetap dapat mengalami kenaikan dan penurunan sehingga investor perlu memahami risiko pasar dan biaya yang terkait dengan produk yang dipilih.
2. Saham
Saham menawarkan peluang pertumbuhan modal sekaligus memiliki risiko fluktuasi yang relatif tinggi. Kinerja saham dapat dipengaruhi kondisi perusahaan, sektor industri, ekonomi, suku bunga, hingga sentimen pasar global.
Bahan sumber menyoroti saham Indonesia serta saham Amerika, khususnya perusahaan yang berkaitan dengan teknologi dan AI. Meski demikian, prospek suatu saham tetap perlu dinilai berdasarkan kondisi dan fundamental perusahaan, bukan hanya berdasarkan tren sektornya.
3. Obligasi dan SBN
Obligasi dan Surat Berharga Negara (SBN) dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin memperoleh pendapatan berkala sesuai karakteristik produk.
SBN diterbitkan pemerintah, sedangkan obligasi korporasi diterbitkan perusahaan sehingga tingkat risiko keduanya perlu dibedakan. Investor juga perlu memperhatikan tenor, kupon atau imbal hasil, harga pasar, serta risiko apabila menjual instrumen sebelum jatuh tempo.
4. Aset Kripto
Aset kripto memiliki karakteristik volatilitas yang tinggi. Perubahan harga dapat berlangsung cepat sehingga instrumen ini mempunyai risiko yang lebih besar dibandingkan sejumlah instrumen investasi yang lebih konservatif.
Perkembangan teknologi seperti decentralized finance (DeFi) juga menjadi bagian dari ekosistem aset kripto. Namun, investor perlu memahami regulasi yang berlaku, risiko kehilangan nilai, serta karakteristik masing-masing aset sebelum mengambil keputusan.
5. Reksa Dana
Reksa dana memungkinkan investor menempatkan dana pada portofolio yang dikelola oleh manajer investasi. Salah satu karakteristiknya adalah diversifikasi karena dana dapat ditempatkan pada beberapa aset sesuai jenis reksa dana.
Jenis reksa dana antara lain reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, saham, dan campuran. Masing-masing memiliki tingkat risiko dan tujuan investasi yang berbeda.
Bahan sumber menyebut proyeksi imbal hasil lebih dari 8 persen untuk reksa dana saham dan campuran. Angka tersebut merupakan proyeksi dari sumber dan tidak dapat dianggap sebagai hasil yang pasti.
6. Perak
Perak juga dapat menjadi salah satu alternatif aset komoditas. Permintaan dari sektor industri, termasuk teknologi energi dan kendaraan listrik, menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam prospek komoditas ini.
Namun, harga perak tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar global sehingga investor perlu mempertimbangkan volatilitas dan mekanisme produk sebelum berinvestasi.
7. Exchange Traded Fund (ETF)
ETF merupakan produk investasi yang diperdagangkan di bursa seperti saham. Produk ini umumnya berisi kumpulan aset tertentu sehingga dapat digunakan untuk memperoleh eksposur terhadap indeks, sektor, atau kelompok aset.
ETF dapat menjadi salah satu cara melakukan diversifikasi. Namun, investor tetap perlu melihat aset yang mendasari ETF, biaya, likuiditas, serta risiko pasar.
Bahan sumber menyebut potensi pengembalian ETF sebesar 8-12 persen. Angka tersebut merupakan proyeksi dalam sumber dan bukan jaminan tingkat keuntungan.
8. Deposito Syariah
Deposito syariah menggunakan mekanisme yang mengikuti prinsip syariah dan dapat menjadi pilihan bagi investor yang mengutamakan karakteristik investasi yang lebih konservatif.
Investor perlu memahami akad, mekanisme bagi hasil, jangka waktu, serta ketentuan produk sebelum menempatkan dana. Status syariah juga tidak berarti produk tersebut bebas dari seluruh risiko.
9. Properti
Properti dapat memberikan potensi pendapatan melalui penyewaan sekaligus potensi perubahan nilai aset dalam jangka panjang.
Namun, investasi properti membutuhkan modal relatif besar dan memiliki karakteristik likuiditas yang berbeda dibandingkan instrumen seperti saham atau reksa dana. Biaya pemeliharaan, pajak, lokasi, dan permintaan pasar juga perlu diperhitungkan.
10. Energi Terbarukan dan Teknologi Hijau
Transisi menuju ekonomi rendah karbon membuat sektor energi terbarukan dan teknologi hijau mendapat perhatian. Bidang yang berkaitan dengan energi surya, baterai, kendaraan listrik, dan teknologi pendukung lainnya termasuk sektor yang dapat dipantau investor.
Meski memiliki peluang pertumbuhan, investasi pada sektor tertentu tetap memiliki risiko bisnis, teknologi, regulasi, dan persaingan.
11. Teknologi Kecerdasan Buatan
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu tema teknologi yang banyak mendapat perhatian.
Perusahaan yang bergerak dalam pengembangan AI, analitik data, komputasi awan, dan otomatisasi berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan adopsi teknologi. Namun, investor perlu menilai kinerja dan valuasi masing-masing perusahaan karena popularitas suatu sektor tidak otomatis menjamin keuntungan investasi.
Strategi Investasi yang Bisa Dipertimbangkan
Selain menentukan instrumen, investor juga perlu memiliki strategi yang sesuai dengan tujuan keuangan.
Dollar-Cost Averaging
Dollar-cost averaging (DCA) merupakan strategi membeli aset secara berkala dengan nominal tertentu tanpa harus mencoba menentukan waktu terbaik untuk masuk pasar.
Strategi ini dapat membantu investor membangun kebiasaan investasi secara disiplin. Namun, DCA tidak menghilangkan risiko kerugian ketika harga aset mengalami penurunan.
Growth Investing
Growth investing berfokus pada perusahaan atau aset yang dinilai mempunyai peluang pertumbuhan pendapatan dan laba yang tinggi.
Sektor teknologi, energi hijau, dan AI termasuk tema yang disebut dalam bahan sumber. Meski demikian, potensi pertumbuhan perlu dibandingkan dengan valuasi dan risiko perusahaan.
Dividend Growth Investing
Strategi ini berfokus pada saham yang memiliki rekam jejak atau potensi pertumbuhan dividen. Investor perlu melihat kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan mempertahankan arus kas sebelum menjadikan dividen sebagai pertimbangan investasi.
Diversifikasi Global
Diversifikasi global dilakukan dengan menyebarkan investasi ke berbagai aset, sektor, atau negara. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan portofolio terhadap satu pasar.
Namun, investasi global juga menghadirkan risiko tambahan, seperti perubahan nilai tukar, kondisi ekonomi negara tujuan, regulasi, serta risiko geopolitik.
Thematic Investing
Thematic investing berfokus pada tema atau tren jangka panjang yang dinilai dapat memengaruhi perekonomian, seperti digitalisasi, keberlanjutan, dan perubahan demografi.
Strategi ini dapat memberikan eksposur terhadap sektor tertentu, tetapi investor tetap perlu menghindari keputusan hanya berdasarkan tren tanpa memahami fundamental aset.
Tidak Ada Investasi yang Cocok untuk Semua Orang
Daftar investasi yang disebut berpotensi pada 2026 tidak berarti seluruh instrumen tersebut sesuai untuk setiap investor. Emas, saham, SBN, reksa dana, aset kripto, properti, maupun instrumen lainnya memiliki karakteristik keuntungan, risiko, likuiditas, dan jangka waktu yang berbeda.
Investor sebaiknya menentukan tujuan investasi terlebih dahulu, kemudian menyesuaikan pilihan aset dengan profil risiko dan kemampuan keuangan. Diversifikasi juga perlu dilakukan secara terukur agar portofolio tidak terlalu bergantung pada satu instrumen atau sektor.
Dengan pendekatan tersebut, keputusan investasi tidak hanya mengikuti tren, tetapi didasarkan pada kebutuhan dan kondisi finansial masing-masing investor. (Red)

